INOVASI MEMPRAKTEKKAN BAHASA ASING TANPA PASANGAN

   Assalamualaikum wr. wb, pada tulisan kali ini, penulis akan berbagi tips mengenai cara atau metode mempraktekkan bahasa tanpa seorang penutur asli secara langsung. Setelah penulis searching di google, memang belum ada yang melakukan metode ini untuk mempraktekkan bahasa secara otodidak. Jadi penulis pikir, metode ini merupakan inovasi yang penulis temukan dalam membantu para aktivis bahasa untuk mempraktekkan bahasanya. Apalagi bagi orang-orang yang mengalami kesulitan bertemu dengan seorang penutur asli atau bahkan sesama para aktivis bahasa. Hmm.. baiklah, tanpa banyak basa basi, langsung saja simak tips-tips berikut ini

1. Siapkan Boneka

   Jumlah bonekannya minimal satu buah boneka saja. Namun, berhubung penulis merupakan aktivis Taman Baca Masyarakat (TBM) atau penggiat literasi yang berfokus pada anak-anak. Jadi disini penulis telah memiliki enam buah boneka dimana penulis menggunakannya sebagai metode pengajaran kepada anak-anak. Dan sekalian saja boneka-boneka tersebut penulis jadikan sebagai teman untuk mempraktekkan bahasa-bahasa asing yang sedang penulis pelajari. Maklum, penulis selalu mengeluh kesusahan dalam menemukan penutur asli. 
   Jangankan penutur asli, orang-orang sesama aktivis bahasa pun susah ditemukan di sekitaran daerah penulis (Makassar-Gowa). Dan penulis yakin, diantara teman-teman aktivis bahasa lain, ada juga yang keluhannya sama. Iyakan? Ada sih penutur asli dan bahkan komunitasnya, cuman lewat sosial media, WA (What's App) group untuk tiap bahasa. Namun cenderung fokus ke pemahaman tulisan saja. Jadi, jujur saja penulis hanya lancar berkomunikasi melalui tulisan, baik membaca maupun menulis, karena aktifnya memang di situ-situ saja sebelumnya. Namun sekarang, penulis mulai melangkahkan kaki satu tangga untuk aktif berbicara melalui pelatihan bersama boneka-boneka. Mau liat bonekanya? Ini bonekanya,
Keluarga Boneka Tangan
   Boneka-bonekanya dibuat sendiri dengan tidak melupakan kearifan lokal dari salah satu budaya Indonesia (Bugis/Makassar). Namun, kalau emang teman-teman mempunyai uang lebih, maka belilah yang jadinya saja. Banyak banget yang jual di online shop dengan kata kunci "Boneka Tangan". Penulis aja pengen beli, cuman nanti kalau punya duit lebih. Penulis pengen beli yang emang kualitasnya udah bagus dan berukuran 75 cm, jadi pemakaiannya lama dan enak digunakan. Namun harga menyesuaikan juga dengan kualitas dan ukuran :D Makanya penulis nabung dulu.. *Maaf curcol*. Nah setelah tersedia bonekanya, maka lanjut ke tips kedua.

2. Naskah Percakapan

   Selanjutnya, teman-teman buat naskah percakapannya dengan menggunakan modal kosakata-kosakata yang ada di dalam pikiran (Kosakata yang udah dipelajari). Penulis saranin bagi yang kasusnya sama dengan penulis (cenderung fokus pada komunikasi tulisan), maka gunakan kosakata-kosakata sebelumnya yang emang udah diketahui terlebih dahulu untuk memulai percakapan oral. Boleh menggunakan kosakata-kosakata baru, tetapi sebagai redaksi kata pada naskah percakapan si bonekannya saja. Namun karena suara dari boneka tersebut merupakan suara kita juga. Jadi, diminimalkan saja kosakata barunya sampai akhirnya emang pasif berbicara menggunakan semua kosakata-kosakata yang udah lama diketahui. Nanti pada saat pembuatan naskah selanjutnya, barulah menggunakan kosakata-kosakata yang baru dipelajari untuk mempraktekkannya antara kita dan bonekanya.

   Nah disini, penulis sudah mempunyai naskah yang penulis susun sendiri dengan modal kosakata-kosakata yang udah kebelet banget ingin keluar melalui suara. Kalau secara tata bahasa sendiri, in syaa Allah cocoklah. Namun untuk sebagian bahasa, penulis tidak terlalu peduli untuk tata bahasanya, yang jelas nih kosakata emang keluar dari mulut penulis. Udah itu aja! Kecuali untuk bahasa-bahasa yang emang pengen penulis berniat mengikuti tes-tesnya. Yah udah, penulis emang pikirkan matang-matang untuk tata bahasanya juga. Berikut naskah percakapan yang telah penulis susun,


3. Mulai Berdialog

   Nah, setelah naskah percakapan selesai. Yah silakan teman-teman mengeksekusi atau mempraktekkannya bersama dengan bonekanya. Kalau penulis sendiri, penulis buatkan video dialognya bersama dengan boneka agar terkesan lebih nyata trus bisa praktek pendengaran juga sekalian. Apalagi, penulis tidak terlihat seperti orang gila yang bercakap sendiri apabila melalui video. Berikut video hasilnya,


   Mungkin teman-teman berpikir bahwa metode ini terlalu ribet. Iya memang benar, penulis akui bahwa inovasi ini emang terlalu ribet. Cuman  menurut penulis, kita sebagai aktivis bahasa juga musti mengikuti zaman yang makin hari makin canggih. Apalagi penulis juga berasal dari keluarga dimana kepercayaannya terhadap spiritual mitos itu sangat kuat. Ialah penulis dilarang bercakap sendiri melalui cermin. Anehkan? Dan penulis harus hargai larangan tersebut. 
BTW, kalau videonya ngga bisa dimainkan, silakan berkunjung kesini, RULLINGUIST atau Klik disini
   In syaa Allah tersedia video-video yang mungkin bisa menginspirasi ataupun berbagi tips pembelajaran bahasa. Dan penulis sangat terbuka bagi sahabat baru yang mungkin kesulitan menemukan sesama aktivis bahasa untuk mempertahankan motivasi belajarnya. Iya, motivasi ekstrinsik itu juga berperan penting dengan memiliki teman-teman sesama aktivis bahasa. Hmm, sebagai penutup, berikut hadist dimana nabi Muhammad menyarankan agar kita semua (umat muslim) mempelajari bahasa-bahasa asing sebagai tombak dalam menjaga diri.

عَنْ خَارِجَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتِ كِتَابِ يَهُودَ. قَالَ  إِنِّى وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابٍ ». قَالَ فَمَا مَرَّ بِى نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

   Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari ayahnya; Zaid bin Tsabit, ia berkata: “Rasulullah ShallAllahu alaihi wa sallam menyuruhku untuk mempelajari -untuk nya- kalimat-kalimat (bahasa asing) dari buku (suratnya) orang Yahudi, Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak merasa aman dari (pengkhianatan) yahudi atas suratku.” Maka tidak sampai setengah bulan aku sudah mampu menguasai bahasa mereka. Ketika aku sudah menguasainya, maka jika-nya (Muhammad) menulis surat untuk yahudi maka aku yang menuliskan untuknya. Dan ketika mereka menulis surat untuk nya (Muhammad), maka aku yang membacakannya kepada-nya.” Abu Isa mengatakan hadits ini hasan shahih. [HR. At Tirmidzi no. 2933). 

Dapatkan Pustaka Literasi Disini:

0 Response to "INOVASI MEMPRAKTEKKAN BAHASA ASING TANPA PASANGAN"

Post a Comment