PANDANGAN ILMIAH TERKAIT BERITA TRENDING DI KAMPUS HIJAU SAAT INI

   Argumentasi adalah aktivitas kolaborasi antara komunikasi verbal dan non-verbal yang paling sering digunakan dalam bahasa sehari hari. Dalam sebuah argumentasi, orang orang cenderung menggunakan kata-kata dan kalimat untuk berdebat, menyatakan atau menolak, dll. Dan pada akhirnya, tujuan dari argumentasi adalah untuk membenarkan pendirian seseorang atau untuk membantah pendapat orang lain. (Van Eemeren et al, 1996). 


   Dan inilah yang sedang terjadi di dalam kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar yang digegerkan dengan sebuah argumentasi dari salah satu dosen dengan menyatakan, "Kalau nda ada uangnya, nda usah kuliah", (sumber 1 , 2) Kemudian terjadi perdebatan antara dosen tersebut dengan seorang mahasiswa yang mengungkapkan argumentasinya melalui sebuah tulisan yang berjudul "Kritik dan Klarifikasi atas Klarifikasi

   Melihat kasus perdebatan antara mahasiswa dan dosen, penulis merasa terpanggil untuk menganalisis argumentasi dan menuliskannya melalui situs pribadi ini. Tetapi tulisan ini tidak bertujuan untuk menyudutkan salah satu di antara mereka. Melainkan untuk memetik pelajaran semata terkait argumen argumen yang menjadi perdebatan. Dan semoga saja ada solusi yang bisa penulis tawarkan di akhir penulisan ini aamiin aamiin.   

   Dalam ilmu bahasa (linguistik), argumentasi adalah sebuah pendapat yang diungkapkan (premis, dengan simbol "p") dan berakhir pada akibat dari sebuah premis dengan simbol "q". Berdasarkan argumentasi yang diungkapkan oleh bapak dosen tersebut, maka dapat dikategorikan pada aturan inferensi dengan rumus sebagai berikut,

p → q
¬q        
∴ ¬p 

Keterangan:  
p → q = positive premise
¬q       = negative premise
→       = Imply 
¬p     = negative conclusion

   Berdasarkan argumentasi beliau, "Kalau nda ada uangnya, nda usah kuliah". Maka argumen tersebut menggunakan bahasa informal, dan wajib diterjemahkan dengan teknik equivalence ke dalam bahasa yang lebih formal untuk menganalisis apakah argumentasi tersebut sesuai dengan rumus di atas.
Equivalence translation technique: "Jika dia tidak mempunyai uang, tidak usah kuliah".
Sepakat yah untuk bahasa yang lebih formalnya? Nah apabila sepakat, mari kita lanjut!
   Terdapat kata negatif, "tidak" pada kalimat argumentasinya yang disimbolkan dengan (¬). Dan apabila kata negative diubah menjadi positive, maka dapat dibangun sebuah kalimat positif berdasarkan rumus di atas. 
p → q = Jika anda mempunyai uang, maka usah/perlu kuliah. 
Namun karena terdapat kata "tidak", maka;
¬q (negative premise) = tidak usah kuliah 
Jadi konsekuensinya terjadi pada ¬p sebagai negative conclusion 
¬p = Dia tidak mempunyai uang. 
   Secara aturan inferensial dalam ilmu bahasa, argumentasi dikatakan valid ketika sebuah kesimpulan (pernyataan akhir) mengikuti pernyataan sebelumnya (premis) yang berdasar pada tautology dengan nama Modus Tollens pada aturan rumus berikut,
(¬q ∧ (p → q)) → ¬p
Keterangan:
¬q       = negative premise
∧         And
p → q = positive premise
→       = Imply 
¬p       = negative premise
(Dan tidak usah kuliah (Jika dia mempunyai uang, maka usah/perlu kuliah)) Jika dia tidak mempunyai uang
   Maka argumentasi dari beliau tersebut dinilai valid yang berdasar pada aturan inferensi dengan nama Modus Tollens dalam berargumentasi. 
Jika dia tidak mempunyai uang, tidak usah kuliah, sama dengan Tidak usah kuliah jika dia tidak mempunyai uang. Sebaliknya, jika dia mempunyai uang, maka perlu kuliah. 
Untuk memahami aturan inferensial, silakan klik link berikut, Modus Tollens atau Di sini.

   Nah, sekarang kita beralih ke perdebatan argumentasi. Penulis menggunakan model teori  "Beyond Reasonable Doubt" yang digunakan oleh John Woods dalam mencari tahu secara logis mengenai keputusan dasar pada setiap klarifikasi masalah yang melekat di dalam perdebatan argumentasi (in Feteris, 2008:1-5), klik disini.
   Dimulai dari sebuah argument yang dilontarkan oleh bapak yang tersangkut, 
Informal : “Kalau nda ada uangnya, nda usah kuliah”
Formal    : "Jika dia tidak mempunyai uang, tidak usah kuliah"
   Walaupun secara aturan inferensial dalam berargumentasi itu valid, tetapi penulis juga sebenarnya merasa prihatin ketika ada orang yang berargumen seperti itu. Hal ini dapat dinilai melalui penggunaan kata "nda" ataupun "tidak" yang telah mencerminkan kepribadiannya dalam berargumentasi. Nah, mari kita coba merubah sedikit redaksi katanya dengan mengganti kata "tidak" atau "nda" menjadi kata "belum". Mungkin akan terdengar sedikit bijaksana dalam berargumentasi.
Jika dia belum mempunyai uang, belum usah/perlu kuliah. 
Belum perlu kuliah jika dia belum mempunyai uang. 
  See? Mungkin kalimat di atas terdengar sedikit lebih bijaksana dan mengurangi tingkat kearogansian seseorang ketimbang menggunakan kata "tidak". Setuju tak?
   Nah sekarang kita tinjau sebab-akibat bagaimana argumentasi itu bisa dilontarkan oleh bapak yang bersangkutan. Apakah klarifikasinya jelas secara ilmiah atau justru sebaliknya? Berdasarkan hasil klarifikasi dari media lokal kampus UINAM, berikut penyebabnya;
  “Saya cuman jengkel dengan cara yang tidak elok seperti itu sehingga keluarlah kata-kata itu. Dengan gaya pakaian Dema yang tidak sopan (memakai sarung dan sendal jepit), kan ada cara yang sopan dan santun” jelasnya. (Irwan: 2018), klik di sini
  Lalu hasil klarifikasi di atas dikiritik oleh salah satu mahasiswa UINAM melalui tulisannya yang berjudul “Kritik dan Klarifikasi atas Klarifikasi”, klik di sini. Poin hasil kritikannya yang bisa penulis kutip dan berhubungan dengan klarifikasi bapak yang tersangkut ialah,
“Tentu tidak ada hubungannya antara pakaian rapi dan perilaku baik seseorang. Koruptor yang nyaris semuanya berpakaian rapi, meskipun tidak semua yang berpakaian rapi adalah koruptor”, jelasnya. 
   Penulis memandang kedua argumentasi di atas itu sudah sesuai, namun belum sepenuhnya tepat pada kritikan atas klarifikasi. Ibaratnya seperti ini, kritikan tersebut belum tepat menjebol titik panahannya, namun sudah sesuai lokasinya untuk memanah *Penulis bukannya sok pintar yah, tetapi ini pandangan penulis*.  Maksudnya apa? Kalau kita perhatikan dengan seksama, klarifikasi dari bapaknya sendiri itu jelas mengungkapkan penyebabnya dalam melontarkan sebuah argumen “Kalau nda ada uangnya, nda usah kuliah”. Ialah beliau merasa jengkel yang disebabkan oleh cara berpakaian mahasiswa ketika menghadap ke beliau yang dinilai tidak sopan.

   Kasus ini sama halnya dengan hasil penelitian terkait “Enclothed Cognition” yang diteliti oleh Adam dan Galsinky pada tahun 2012, ialah "the power of clothing"  dimana ada dua elemen yang dapat mempengaruhi orang terhadap si pemakai dress code; (1) Simbolis, (2) Lingkungan fisik. Nah, secara simbolik sendiri adalah pakaian yang mencerminkan status sosial kita, misalnya seorang siswa, mahasiswa, pemimpin, pekerja profesional di bidangnya dan lain sebagainya yang mampu mempengaruhi kepercayaan orang terhadap kita. Sedangkan secara fisik merupakan penyesuaian dalam penggunaan dress code sehingga mampu mempengaruhi persepsi orang di lingkungan sekitar. Persepsi yang dimaksud adalah bagaimana cara orang berkomunikasi ke kita, berperilaku ke kita, dan cara orang memandang kita yang dapat terpengaruh dari cara kita berpakaian. Lebih jauh lagi, penelitian yang dilakukan bukan hanya berdasar pada study literature semata, melainkan perlakuan eksperimen di lapangan secara langsung. Jadi, kevalidan datanya dapat dibenarkan dan dapat dipercaya, yakni bukan lagi sebuah hipotesis semata. Jurnalnya pun telah terpublikasi resmi di Elsevier. Klik disini untuk mendapatkan jurnalnya, atau tonton video singkatnya.
Kalau tidak bisa terputar videonya, Klik disini.    

   Jadi, klarifikasi penyabab argumentasi yang dilontarkan oleh beliau itu cukup kuat berdasarkan pandangan ilmiah secara psikologi. Lebih jauh lagi, penulis memberikan dua contoh foto terkait Enclothed Cognition, yakni The power of clothing. Mohon ketika teman-teman melihat foto dibawah ini agar memperhatikan dengan seksama dress code yang ia gunakan, jangan sampai teman-teman salfok (Salah fokus). Dan bagaimana kesan pertama anda menilai orang pada kedua foto di bawah ini;
  1. Foto pertama
  2. Foto Kedua
   Penulis yakin bahwa persepsi kita melihat kedua foto di atas kemungkinan besar akan berbeda, dan menganggap bahwa foto pertama terkesan lebih positif ketimbang yang kedua. Padahal orangnya sama, hanya cara berpakaiannya saja yang berbeda. Nah itulah the power of clothing, bahkan penambahan aksesoris pun akan mempengaruhi persepsi orang, misalnya penambahan kacamata, dasi, dls. Inilah yang telah terjadi pada kasus yang menimpa salah seorang mahasiswa dengan jabatannya yang terbilang bagus, yakni seorang DEMA (Dewan Mahasiswa).

   Sedangkan mahasiswa yang mengritiknya lebih mengarah ke sifat pribadi seseorang yang menggunakan pakaian tersebut sehingga tidak ada indikator penilian yang bergantung pada cara kita berpakaian. Itulah mengapa, tidak semua koruptor itu berpakaian rapi, bisa saja berpakaian casual atau bahkan berpakaian muslim/muslimah. Berdasarkan Enclothed Cognition, dengan mereka berpakaian seperti itu mampu mempengaruhi persepsi masyarakat sekitar (Adam dan Galsinky, 2012). Dalam hal ini, para koruptor dapat bersembunyi melalui dress code yang mereka kenakan. Siapa yang tahu kebaikan/keburukan di dalam hati seseorang? Sampai saat ini belum ada indikator penilaiannya untuk mengetahui isi hati seseorang.

   Namun yang harus diakui memang bahwa letak kesalahan terbesarnya dari argumentasi bapak tersebut. Nah ini yang sangat disayangkan, ialah cara bapak merespon para aktivis pendidikan. Padahal bapak ini salah satu aktivis pendidikan juga yang bahkan bekerja di instansi pendidikan, terlebih universitas. Penulis yakin sih, dengan jabatan yang dimilikinya, pasti membutuhkan proses yang panjang dan lama untuk menggapainya. Namun masa iya dengan proses yang sepanjang itu, tetapi kecerdasan emosionalnya (EQ) masih kurang dalam mendidik? Iya, dibuktikan dengan cara bapak merespon sehingga mampu melontarkan dan belum bisa mengontrol argumentasi seperti itu. Ini yang menjadi tanda tanya besar penulis. Seyogyanya dengan pengalaman mendidik sepanjang dan selama itu, harus mampu mengontrol kata kata yang dapat mencoreng nama baik seorang pendidik, terlebih nama universitas yang membawa nama banyak orang.


    Lebih jauh lagi, penulis belajar mengenai hubungan antara ilmu bahasa dan psikologi, mahasiswa Bahasa dan Sastra menyebutnya dengan istilah "Psikolinguistik". Nah yang menjadi kekhawatiran besar kami sebagai pemerhati bahasa adalah apa yang dilontarkan oleh beliau dengan menggunakan bahasa verbal mampu mempengaruhi psikologi seseorang, utamanya yang memang berekonomi rendah, kan berbahaya. Dikhawatirkan mereka merasa takut untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Apalagi sekarang beritanya sudah tersebar dimana-mana melalui media sosial. Dan itu berarti, yang tadinya cuma secara oral dalam berargumentasi, kini menjadi written yang justru lebih berpotensi besar terjadi kesalahpahaman. Dengan kata lain, kita tidak bisa menentukan bagaimana intonasi dan ekspresi beliau ketika berargumentasi melalui bahasa tulisan (written). Nah ini menyangkut psikologi seseorang yang membacanya.
  By the way, disini penulis tidak menyalahkan siapa siapa. Penulis hanya mengambil pelajaran dari kasus ini semata bahwa Bahasa itu sakral. Jangankan dari segi ekspresi, tata bahasanya pun mampu mempengaruhi kita. 
   Maafkan saya yah pak sebelumnya, mungkin penulis sedikit lancang. Tetapi yah, ini menyangkut nama baik universitas soalnya yang membawa nama kami juga secara pribadi. Nah, untuk ide solusinya sendiri, mungkin yang pertama ke beliaunya dulu yang berargumentasi. Apabila bapak berinisiatif untuk meminta maaf atas argumentasi bapak, penulis lebih menyarankan agar bapak terlebih dahulu melakukan permintaan maaf melalui video dan jangan melalui tulisan dulu. Sekarangkan telah tersedia "Voice Alauddin" sebagai Youtube channel yang bekerjasama dengan UIN Alauddin Makassar. Nah ada baiknya bapak mungkin mengundang penanggung jawab "Voice Alauddin" untuk membantu bapak meminta maaf secara oral melalui video dan diunggah ke media sosial (Youtube Channel). Hal ini lebih berpotensi untuk tidak terjadi kesalahpahaman karena ekspresi dan intonasi suara bapak dapat diperhatikan oleh banyak netizen.

    Ekspresi wajah dan intonasi suara yang sopan hanya bisa dilihat melalui video dan bukan melalui bahasa tulisan. Jadi dengan cara shooting video dan diunggah ke Voice Alauddin misalnya, akan lebih berpotensi untuk mengubah tanggapan negatif netizen ke arah yang lebih positif bahwa ternyata bapak orangnya bijaksana dan bertanggung jawab. Dan secara tidak langsung pun akan mengembalikkan citra nama baik kampus kita (walaupun mungkin belum sepenuhnya). Barulah masuk ke tulisan untuk lebih memperkuat misalnya :). Kalaupun bapak berniat meminta maaf kepada mahasiswa yang bersangkutan langsung, penulis pikir hal tersebut belum mampu merubah citra nama baik kampus karena argumentasi bapak sudah tersebar melalui sosial media yang dibaca oleh banyak orang, apalagi terkait pendidikan. Bahkan beritanya sudah tersebar di group Whatsapp penulis dimana anggota-anggotanya berasal dari universitas yang berbeda. Maaf apabila penulis terkesan mengajari yah pak, penulis hanya ingin berbagi demi nama baik kampus kita. Dan untuk menghindari kejadian yang serupa lagi yang diakibatkan oleh dress code semata, mungkin foto ini bisa jadi ide pertimbangan.
Aturan Dress Code kampus FISIP Universitas Indonesia
Sumber: Google
      Baiklah, karena tulisan ini bukan jurnal, jadi tautan atau link referensinya pun, penulis sertakan saja di atas untuk diklik langsung. Akhir kata, apabila ada kesalahan bahasa dalam penulisan ini, mohon dikoreksi. Semoga kita semua dapat menjaga tutur kata kita dalam berbahasa, dan dapat menyesuaikan dress code yang kita gunakan karena rapi itu tidak harus kaya teman teman. Sekian wassalamualaikum wr. wb..

Dapatkan Pustaka Literasi Disini:

4 Responses to "PANDANGAN ILMIAH TERKAIT BERITA TRENDING DI KAMPUS HIJAU SAAT INI "