LOMBA KARYA TULIS ILMIAH (METODE RESEARCH AND DEVELOPMENT)

   Akhir akhir ini, penulis jarang memperbaharui rumah curhat ini lagi. Bahkan kemungkinan besar, penulis hanya bisa memproduksi tulisan dalam waktu sekali-sebulan. Jujur saja, penulis hanya menyempatkan untuk menulis dan memposting tulisan ini ditengah-tengah waktu istirahat perkuliahan (bimbingan). Nah pada tulisan kali ini, penulis akan mereview atau meninjau buku Professor Sugiyono terkait Research and Development (R&D) yang dipublikasikan pada tahun 2013. Mengapa harus buku professor Sugiyono? Alasan sederhananya adalah karena buku buku lain yang membahasa serupa, sulit untuk ditemukan! Apalagi yang dalam bahasa asing. Ada sih yang penulis dapatkan, cuman bukunya lebih membahas secara khusus ke rana pendidikan. Sedangkan buku Prof. Sugiyono ini, membahas Research and Development secara umum yang dibagi ke dalam beberapa Sub-bab; Pendidikan, Bahasa, Sosial & Budaya, Kesehatan, dan Teknologi. Walaupun sumbernya menggunakan bahasa Indonesia dimana professor Sugiyono sendiri meninjau buku-buku yang berbahasa Inggris. Tetapi yah, tidak apa apa! Paling tidak, sudah menemukan sumber dimana penulisnya adalah seorang professor (bisa dipercaya).


   Sebelum masuk inti, penulis menyarankan agar teman teman telah memahami secara jelas, bagaimana itu metode Kuantitatif (positivisme), Kualitatif (postpositivisme), Kombinasi (Mix method/Pragmatisme), Potensi Masalah, Instrumen, Variabel, Populasi dan Sampel, pokoknya istilah istilah pada sebuah metodologi penelitian (klik Disini, dan unduh bukunya). Penulis tidak akan membahas kesana, hanya fokus terhadap R&D, utamanya pada langkah-langkah dalam melakukan metode R&D yang sesuai dengan pengalaman dan didasarkan pada pendakatan dari para ahli.
   Metode Research and Development, atau lebih populer dengan nama "R&D" merupakan suatu metode dalam melakukan penelitian pada sebuah produk produk tertentu; baik berupa produk ciptaan sendiri yang belum ada (kreatif), maupun hasil pengembangan dari produk yang telah ada (inovasi). Dalam melakukan metode R&D, terdapat banyak model yang bisa dipilih berdasarkan pendekatan dari para ahli; Borg and Gall (1989), Thiagarajan (1974), Robert Maribe Branch (2009) dan Richey and Klein (2009). Namun model R&D yang paling populer berasal dari pendekatan Borg and Gall (1989) yang terdapat 10 langkah-langkah metode R&D.


Berikut penjelasan dari kesepuluh langkah langkah di atas:

1. Research and Information Collecting (Penelitian dan Pengumpulan Informasi)

   Singkatnya, seorang peneliti harus mengumpulkan informasi yang bertujuan untuk menemukan potensi masalah; baik melalui studi literature, penelitian dalam skala kecil dan pembuatan laporan sebagai bentuk analisis kebutuhan. Pada tahap penelitian skala kecil, peneliti bisa melakukan observasi lapangan dan melakukan wawancara untuk menemukan potensi masalah di lapangan. Ada baiknya data yang diperoleh,  diperkuat lagi dengan studi literatur. Selanjutnya, data-data tersebut disatukan dan disusun sebagai bentuk laporan analisis kebutuhan.

   Sebagai contoh, kami (tim peneliti penulis) berniat membuat sebuah produk media pembelajaran untuk siswa Sekolah Dasar. Maka tahap pertama yang harus kami lakukan adalah mengunjungi beberapa sekolah untuk melakukan observasi dan wawancara kepada guru guru. Dari beberapa sekolah tersebut, potensi masalah yang kami peroleh adalah metode pengajaran yang cenderung menggunakan metode ceramah dan media pembelajaran seadanya yang membuat siswa cepat merasa bosan. Kemudian data yang kami peroleh, diperkuat dengan hasil studi literatur terkait metode pengajaran, keefektivan media, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan fokus penelitian kami. Selanjutnya, data data yang kami dapatkan disusun dan disatukan sebagai bentuk analisis kebutuhan dari sekolah-sekolah yang telah diobservasi.
    Analisis kebutuhan ini bertujuan untuk memperkuat ide terkait seberapa urgensi masalah yang ingin diselesaikan melalui produk yang akan dibuat oleh tim peneliti. Nah, hal urgensi tersebut bisa menjadi nilai tambahan (nilai jual) apabila ingin memasuki ajang kompetisi karya tulis ilmiah (KTI).

2. Planning (Perencanaan)

   Pada tahap kedua, peneliti merencanakan atau mendesain sebuah rancangan produk yang sesuai dengan laporan analisis kebutuhan yang diperoleh. Perancangan produk bisa berupa media pendidikan, produk teknologi, obat obatan (kesehatan), dan lain sebagainya yang sesuai dengan jurusan kita.

   Lanjut pada contoh di atas, setelah kami melakukan observasi analisis kebutuhan, maka kami merancang sebuah produk media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan sekolah-sekolah. Dalam hal ini, kami merancang sebuah boneka sebagai media pembelajaran yang dikembangkan sesuai kebutuhan sekolah.
   Tahap ini kami hanya menggambarkan desain produknya saja, lalu melaporkan desainnya ke dosen pembimbing. Inilah gunanya dosen pembimbing, pada ajang lomba KTI pun membutuhkan dosen pembimbing. Yakinlah, ada banyak masukan-masukan dari dosen pembimbing terkait desainnya sebelum akhirnya dibuatkan prototype produknya secara fisik dan nyata. Saran-saran yang kami dapatkan misalahnya, pemilihan kain pada boneka, inovasi apa yang ada pada boneka, adakah permainan-permainan yang diaplikasikan ketika menggunakan boneka, dan masih banyak lagi masukan-masukan dari dosen pembimbing KTI.

3. Develop Preliminary Form a Product (Mengembangkan Produk Awal)

   Kemudian peneliti membuat desain produk tersebut menjadi produk nyata secara fisik. Baik hasil ciptaan sendiri, maupun hasil pengembangan dari produk yang telah ada (inovasi). Namun, produk tersebut masih berupa prototype semata. Dengan kata lain, produk yang dibuat masih berjumlah satu buah dan bukan rancangan ataupun desain semata, tetapi produknya telah ada secara fisik yang jumlahnya hanya satu buah (prototype). Nah, disini kita sudah paham yah apa itu prototype produk!  Pada metode R&D, produk tersebut merupakan variabel independen yang selanjutnya dilakukan ujicoba produk sebagai variabel dependennya.

   Contoh, kami sudah merancang dan mendesain sebuah produk boneka. Boneka yang kami buat merupakan suatu inovasi. Dalam hal ini, suatu pengembangan produk yang telah ada. Kemudian, hasil desain tersebut dibuat secara nyata sesuai dengan masukan-masukan dari dosen pembimbing. Namun, kami membuatnya hanya satu produk saja (prototype). Bukan waktunya untuk diperbanyak karena masih harus melakukan berbagaimacam ujicoba.

4. Preliminary Field Testing (Pengujian Lapangan Awal)

   Nah pada tahap ini, produk kita sudah ada, namun masih dalam bentuk prototype. Lalu produk tersebut harus memasuki tahap ujicoba lapangan awal. Dalam hal ini, produk memasuki uji coba validasi produk kepada para ahli; Minimal orang yang telah memasuki gelar S3 atau Ph.D. Minta pendapatnya berupa saran dan kritik dari para ahli tersebut.
  Untuk melakukan uji validasi produk, peneliti bisa melakukan teknik Focus Group Discussion (FGD), wawancara atau berupa pemberian kuesioner kepada para ahli. FGD bertujuan untuk mendiskusikan produk yang telah dikembangkan selama beberapa hari. Lalu meminta saran dan kritiknya melalui wawancara dan menilai validasi produk melalui kuesioner.

   Contoh, prototype Boneka sudah ada, namun jangan langsung diujicoba ke sekolah-sekolah. Tetapi harus melalui ujicoba validasi produk ke ahli media pendidikan; Minimal mereka yang bergelar S3 atau Ph.D. Kami membawa boneka tersebut kepada para ahli media pendidikan, dalam hal ini hanya dua ahli media pendidikan yang kami temui. Kami melakukan FGD terkait boneka yang ingin dijadikan sebagai media pembelajaran. Lalu meminta (wawancara) saran dan kritiknya terkait boneka tersebut. Nah diakhir pertemuan, kami meminta agar kuesioner uji validasinya diisi oleh para ahli media tersebut sebagai bukti bahwa kami telah melakukan uji validasi produk.
   Sebenarnya, cukup FGD dan wawancara itu sudah lumayan karena sudah banyak memperoleh data-data hasil uji validasi melalui teknik tersebut. Tetapi karena tujuannya untuk lomba yang harus diperkuat temuannya, maka kuesioner pun ada sebagai bentuk lampiran data uji validasi produk.

5. Main Product Revision (Melakukan Revisi Utama)

   Setelah produk melakukan uji validasi, maka produk tersebut direvisi berdasarkan hasil saran dan masukan-masukan dari para ahli melalui FGD dan wawancara tadi. Dengan kata lain, produk tersebut diperbaiki sesuai dengan saran dan kritik dari para ahli. Sedangkan kuesionernya menjadi bukti lampiran bahwa kita (peneliti) telah melakukan uji validasi produk.
Contohnya, bisa dibaca dari paragraf di atas, kata "produk" diganti menjadi "boneka". Oke? :3 Monggo dibaca ulang. 
6. Main Field Testing (Melakukan Ujicoba Lapangan Utama)

   Setelah produk direvisi/diperbaiki, maka selanjutnya produk tersebut memasuki tahap ujicoba utama ke lapangan. Dalam hal ini, produk yang telah kita buat harus melakukan ujicoba ke masyarakat. Namun pada tahap ini, jumlah masyarakatnya masih terbatas atau jumlahnya masih dibatasi. Dan peneliti bisa menentukan jumlahnya. Tergantung teknik pengambilan sampel penelitian.

   Nah mulai nih memasuki tahap yang sedikit menyiksa, ialah ujicoba lapangan pada produk media pembelajaran, Boneka. Namun ujicoba lapangan ini masih terbilang terbatas. Dengan kata lain, jumlah siswa dan sekolahnya masih dibatasi. Nah kami melakukan ujicoba lapangan terbatas ini di salah satu sekolah dengan pengujian produk pada siswa kelas IV.B. Terdapat tiga kelas IV di sekolah yang kami kunjungi, IV. A, IV.B, dan IV.C. Mengapa hanya siswa kelas IV.B? Karena kami menggunakan sampel insidental dan menyesuaikan analisis kebutuhan yang diperoleh sebelumnya. Nah selain itu, kami mengundang sebanyak dua guru sebagai pengamat (observer) produk yang kami tawarkan, boneka. Kami memberikan sebuah kuesioner kepada guru guru tersebut untuk diisi sesuai hasil pengamatannya. Dalam hal ini, keefektivan media pembelajaran boneka tersebut. Lalu di akhir pertemuan, kami melakukan wawancara lagi untuk mendapatkan data-data terkait apa yang perlu direvisi dari boneka ini.

7. Operational Product Revision (Revisi Operasional Produk)

  Selanjutnya hasil dari ujicoba utama di atas, dilakukan revisi kembali untuk selanjutnya dioperasionalkan ke lapangan yang lebih luas. Pada tahap ini, peneliti melakukan revisi produk berdasarkan masalah-masalah yang diperoleh pada saat menguji coba lapangan terbatas.

   Karena kami tidak menemukan masalah terkait produk bonekanya, jadi tak ada yang perlu kami revisi dari produk tersebut. Hanya saja, saran dari guru guru di atas mengenai cara mengajar dari salah satu tim peneliti yang masih sedikit kaku (kurang percaya diri). Jadi, itu saja sih yang perlu direvisi. Maklum, ujicoba lapangan pertama, jadi masih kurang percaya diri.

8. Operational Field Testing (Ujicoba Lapangan Operasional)

   Peneliti selanjutnya melakukan ujicoba lapangan operasional. Maksudnya adalah produk yang telah direvisi, selanjutnya melakukan ujicoba pada lapangan yang lebih luas. Dalam hal ini, jumlah masyarakatnya lebih banyak daripada ujicoba terbatas yang sebelumnya.

   Nah tahap ini, kami telah mengunjungi dua sekolah, dan memasuki keseluruhan jumlah kelas IV -nya. Namun, kami tetap menggunakan sampel insidental untuk siswa dan guru gurunya. Sedangkan untuk prosesnya sendiri, sama kok yang tertulis di ujicoba lapangan terbatas. Yang membedakan hanyalah kuantitas respondennya saja, baik dari siswa maupun dari guru gurunya sebagai observer (pengamat)

9. Final Product Revision (Revisi Produk Akhir)

   Nah tahap selanjutnya, setelah produk melakukan ujicoba lapangan operasional dan peneliti masih menemukan masalah pada produk yang dibuat, maka peneliti harus memperbaiki kembali atau merivisi lagi produk yang dibuat tersebut sebelum akhirnya diimplementasikan. (Apabila masih terdapat masalah pada produk).

   Nah disini, revisi produk akhirnya sudah tidak ada lagi. Karena alhamdulillah saran dan kritiknya pada bagus. Pengisian kuesioner dari guru guru observer juga memuaskan. Wawancara ke siswa-siswa juga memuaskan. Bahkan mereka berharap agar ke depan bisa hadir lagi membawa bonekanya. Secara keseluruhan ujicoba, teknik analisis data yang kami gunakan adalah mix method (kombinasi), baik kualitatif maupun kuantitatif. Kualitatif berfungsi untuk menjabarkan temuan temuan hasil wawancara yang didukung oleh teori-teori yang serupa. Sedangkan kuantitatif berfungsi untuk mendapatkan persentase keefektivan boneka sebagai media pembelajaran (ada rumusanya).

10. Dissemination and Implementation (Desiminasi dan Implementasi Produk)

   Tahap terakhir adalah mendesiminasikan dan mengimplementasikan produk yang telah melalui berbagai macam ujicoba; Uji validasi, ujicoba lapangan terbatas (utama) dan ujicoba lapangan luas (operasional). Jadi peneliti telah menemukan variabel dependennya. Maksud dari "Desiminasi" adalah peneliti membuat laporan penelitian mengenai produk yang telah diteliti dan dikembangkan (R&D), untuk selanjutnya dipublikasi pada jurnal jurnal dan dipresentasikan pada sebuah forum penelitian yang serupa (konferensi). Sedangkan "Implementasi" adalah peneliti siap mendistribusikan secara komersial (bisnis) terhadap produk yang telah dibuat dan dikembangkan. Dengan catatan "peneliti harus memonitor produk yang telah didistribusikan guna membantu dan mengontrol mutu dari produk tersebut".

   Berhubung kami masih berstatus mahasiswa (undergraduate student), maka bentuk desiminasi kami disini adalah mengikut-sertakannya pada lomba lomba KTI sejenis. Setelah mengikut sertakan, apabila ada dana (diusahakan), maka diikutsertakan pada konferensi penelitian sejenis. Mengapa harus lomba KTI terlebih dahulu? Karena menurut penulis, mahasiswa juga butuh yang namanya jiwa pesaing disamping aktif akademik maupun organisasi.  Dan lomba KTI lebih terasa jiwa persainganya ketimbang langsung masuk konferensi.
  Konferensi itu kegiatan berprofit, jadi makin banyak yang lolos, makin untung si pihak penyelenggara. Berbeda dengan lomba KTI, yang membatasi KTI untuk dimasukkan dan diseleksi hingga ke tahap finalis. Iyakan? Lebih terasa persaingannya kalau LKTI. Tetapi pada akhirnya, akan dipublikasi secara resmi pada jurnal jurnal penelitian serupa, baik melalui konferensi ataupun tanpa konferensi (publikasi langsung).
   Sedangkan bentuk implementasinya, kami tidak mendistribusikannya secara komersial karena terbatas akan ruang dan waktu. Dalam hal ini, belum saatnya untuk berbisnis sebuah produk boneka. Pertanyaannya, siapa yang akan memonitor produk? Untuk sekarang, kami tidak bisa memonitor secara berkala pada boneka tersebut. Yang ada malah penulis nggak wisuda-wisuda jadinya. Inilah yang menyebabkan metode R&D itu longitudinal (memakan waktu yang lama). Tetapi bisa berbisnis kita.

   Langkah langkahnya panjang? Iya, emang panjang. Hehehe
Jujur, tahap di atas itu penulis telah menginterpretasikannya sesuai pengalaman dan menyesuaikan dengan status kita yang masih sebagai mahasiswa cupu S1, (masih belajar metodologi penelitian). Kalau mau aslinya, lebih rumit dan cocoknya untuk mahasiswa yang mengejar gelar S2 atau bahkan S3 (asumsi). Tahap di atas, penulis telah menjalani bersama dua peneliti yang tergabung dalam satu tim peneliti.
   Dan penulis sendiri telah menjalani metode R&D sebanyak dua kali, ialah sebuah produk pemertahanan ancaman kepunahan bahasa, dan juga media pembelajaran berupa boneka sebagai model pembelajaran pada siswa Sekolah Dasar (SD). Namun peneliti tidak sampai melakukan implementasi (distribusi komersial), cukup desiminasi (ikut lomba karya tulis ilmiah dan konferensi untuk mempublikasi sebagai hak cipta). Dan sumpah, terasa capeknya, apalagi di akhir akhir ujicoba. Bahkan penulis sempat mengalami Vertigo malah sakin seringnya berhadapan dengan laptop dan buku buku demi mencoba metode R&D ini.

   Namun, ada kabar baik dari Professor Sugiyono. Model R&D, pendekatan Professor Sugiyono mengklasifikasikannya ke dalam beberapa level/tingkatan; Level 1, Level 2, Level 3 dan Level 4 (terakhir). Hal tersebut akan lebih memudahkan kita dalam menjalani langkah langkah model R&D berdasar pada pendekatan Professor Sugiyono. Tapi, tidak untuk dibahas dan dilanjutkan pada tulisan ini. Mungkin next postingan, in syaa Allah.. Ingatkan saja! Namun sebelum mengingatkan, ada baiknya langkah langkah di atas sudah harus dipahami. Sebab Prof. Sugiyono sendiri hanya berdasar pada pendekatan Borg and Gall (1989).

   Hufft,, sebagai penutup, semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para peneliti muda, "Hidup mahasiswa S1!!!!" Dan berikut video dimana penulis dan beberapa peneliti mahasiswa telah menjalani proses R&D, semoga teman-teman bisa termotivasi dengan melihat video kami. Sekian dan terima kasih, wassalamualaikum wr.wb. Good luck :)


Dapatkan Pustaka Literasi Disini:

2 Responses to "LOMBA KARYA TULIS ILMIAH (METODE RESEARCH AND DEVELOPMENT)"

  1. ya Allah :) ... panjang banget mas artikelnya, sangat bermanfaat, dan good job ! sukses buat mas Hasrullah ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya, emang panjang prosesnya juga mas. Makanya reviewnya panjang juga hehehe. Aamiin aamiin yah Allah..
      Sukses juga buat mas Teguh..

      Delete