PROSES METODE R&D UNTUK LKTI MAHASISWA UNDERGRADUATE

PROSES METODE R&D UNTUK LKTI MAHASISWA UNDERGRADUATE

   Akhir akhir ini, penulis jarang memperbaharui rumah curhat ini lagi. Bahkan kemungkinan besar, penulis hanya bisa memproduksi tulisan dalam waktu sekali-sebulan. Jujur saja, penulis hanya menyempatkan untuk menulis dan memposting tulisan ini ditengah tengah waktu istirahat perkuliahan (Cafetaria). Pada tulisan kali ini, penulis akan mereview atau meninjau buku Professor Sugiyono terkait Research and Development (R&D) yang dipublikasikan pada tahun 2013. Mengapa harus buku professor Sugiyono? Alasan sederhananya adalah karena buku buku lain yang membahasa serupa, sulit untuk ditemukan! Apalagi yang dalam bahasa asing. Ada sih yang penulis dapatkan, cuman bukunya lebih membahas secara khusus ke rana pendidikan. Sedangkan buku Prof. Sugiyono ini, membahas Research and Development secara umum yang dibagi ke dalam beberapa Subbab; Pendidikan, Bahasa, Sosial & Budaya, Kesehatan, dan Teknologi. Walaupun sumbernya menggunakan bahasa Indonesia dimana professor Sugiyono sendiri meninjau buku buku yang berbahasa Inggris. Tetapi yah, tidak apa apa! Paling tidak, sudah menemukan sumber dimana penulisnya adalah seorang professor (bisa dipercaya).

Sumber: Google
   Sebelum masuk inti, penulis menyarankan agar teman teman telah memahami secara jelas, bagaimana itu metode Kuantitatif (positivisme), Kualitatif (postpositivisme), Kombinasi (Mix method/Pragmatisme), Potensi Masalah, Instrumen, Variabel, Populasi dan Sampel, pokoknya istilah istilah pada sebuah metodologi penelitian (klik Disini, dan unduh bukunya). Penulis tidak akan membahas kesana, hanya fokus terhadap R&D, utamanya pada langkah-langkah dalam melakukan metode R&D yang sesuai dengan pengalaman dan didasarkan pada pendakatan dari para ahli.
   Metode Research and Development, atau lebih populer dengan nama "R&D" merupakan suatu metode dalam melakukan penelitian pada sebuah produk produk tertentu; baik berupa produk ciptaan sendiri yang belum ada (kreatif), maupun hasil pengembangan dari produk yang telah ada (inovasi). Dalam melakukan metode R&D, terdapat banyak model yang bisa dipilih berdasarkan pendekatan dari para ahli; Borg and Gall (1989), Thiagarajan (1974), Robert Maribe Branch (2009) dan Richey and Klein (2009). Namun model R&D yang paling populer berasal dari pendekatan Borg and Gall (1989) yang terdapat 10 langkah-langkah metode R&D.

Berikut penjelasan dari kesepuluh langkah langkah di atas:

1. Research and Information Collecting (Penelitian dan Pengumpulan Informasi)

   Singkatnya, seorang peneliti harus mengumpulkan informasi yang bertujuan untuk menemukan potensi masalah; baik melalui studi literature, penelitian dalam skala kecil dan pembuatan laporan sebagai bentuk analisis kebutuhan. Pada tahap penelitian skala kecil, peneliti bisa melakukan observasi lapangan dan melakukan wawancara untuk menemukan potensi masalah di lapangan. Ada baiknya, data yang diperoleh,  diperkuat lagi dengan studi literatur. Selanjutnya, data data tersebut disatukan dan disusun sebagai bentuk laporan analisis kebutuhan.

   Sebagai contoh, kami (tim peneliti penulis) berniat membuat sebuah produk media pembelajaran untuk siswa Sekolah Dasar, maka tahap pertama yang harus kami lakukan adalah mengunjungi beberapa sekolah untuk melakukan observasi dan wawancara kepada guru guru. Dari beberapa sekolah tersebut, potensi masalah yang kami peroleh adalah metode pengajaran yang cenderung menggunakan metode ceramah dan media pembelajaran seadanya yang membuat siswa cepat merasa bosan. Kemudian data yang kami peroleh, diperkuat dengan hasil studi literatur terkait metode pengajaran, keefektivan media, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan fokus penelitian kami. Selanjutnya, data data yang kami dapatkan disusun dan disatukan sebagai bentuk analisis kebutuhan dari sekolah-sekolah yang telah diobservasi.
    Analisis kebutuhan ini bertujuan untuk memperkuat ide terkait seberapa urgensi masalah yang ingin diselesaikan melalui produk yang akan dibuat oleh tim peneliti. Nah, hal urgensi tersebut bisa menjadi nilai tambahan (nilai jual) apabila ingin memasuki ajang kompetisi karya tulis ilmiah (KTI).

2. Planning (Perencanaan)

   Pada tahap kedua, peneliti merencanakan atau mendesain sebuah rancangan produk yang sesuai dengan laporan analisis kebutuhan yang diperoleh. Perancangan produk bisa berupa media pendidikan, produk teknologi, obat obatan (kesehatan), dan lain sebagainya yang sesuai dengan jurusan kita.

   Lanjut pada contoh di atas, setelah kami melakukan observasi analisis kebutuhan, maka kami merancang sebuah produk media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan sekolah-sekolah. Dalam hal ini, kami merancang sebuah boneka sebagai media pembelajaran yang dikembangkan sesuai kebutuhan sekolah.
   Tahap ini kami hanya menggambarkan desain produknya saja, lalu melaporkan desainnya ke dosen pembimbing. Inilah gunanya dosen pembimbing, pada ajang lomba KTI pun membutuhkan dosen pembimbing. Yakinlah, ada banyak masukan masukan dari dosen pembimbing terkait desainnya sebelum akhirnya dibuatkan prototype produknya secara fisik dan nyata. Saran saran yang kami dapatkan misalahnya, pemilihan kain pada boneka, inovasi apa yang ada pada boneka, adakah permainan permainan yang diaplikasikan ketika menggunakan boneka, dan masih banyak lagi masukan masukan dari dosen pembimbing KTI.

3. Develop Preliminary Form a Product (Mengembangkan Produk Awal)

   Kemudian peneliti membuat desain produk tersebut menjadi produk nyata secara fisik. Baik hasil ciptaan sendiri, maupun hasil pengembangan dari produk yang telah ada (inovasi). Namun, produk tersebut masih berupa prototype semata. Dengan kata lain, produk yang dibuat masih berjumlah satu buah dan bukan rancangan ataupun desain semata, tetapi produknya telah ada secara fisik yang jumlahnya hanya satu buah (prototype). Nah, disini kita sudah paham yah apa itu prototype produk!  Pada metode R&D, produk tersebut merupakan variabel independen yang selanjutnya dilakukan ujicoba produk sebagai variabel dependennya.

   Contoh, kami sudah merancang dan mendesain sebuah produk boneka. Boneka yang kami buat merupakan suatu inovasi. Dalam hal ini, suatu pengembangan produk yang telah ada. Kemudian, hasil desain tersebut dibuat secara nyata sesuai dengan masukan-masukan dari dosen pembimbing. Namun, kami membuatnya hanya satu produk saja (prototype). Bukan waktunya untuk diperbanyak karena masih harus melakukan berbagaimacam ujicoba.

4. Preliminary Field Testing (Pengujian Lapangan Awal)

   Nah pada tahap ini, produk kita sudah ada, namun masih dalam bentuk prototype. Lalu produk tersebut harus memasuki tahap ujicoba lapangan awal. Dalam hal ini, produk memasuki uji coba validasi produk kepada para ahli; orang yang telah memasuki gelar S3 atau Ph.D. Minta pendapatnya berupa saran dan kritik dari para ahli tersebut. Untuk melakukan uji validasi produk, peneliti bisa melakukan teknik Focus Group Discussion (FGD), wawancara atau berupa pemberian kuesioner kepada para ahli. FGD bertujuan untuk mendiskusikan produk yang telah dikembangkan selama beberapa hari. Lalu meminta saran dan kritiknya melalui wawancara dan menilai validasi produk melalui kuesioner.

   Contoh, prototype Boneka sudah ada, namun jangan langsung diujicoba ke sekolah-sekolah. Tetapi harus melalui ujicoba validasi produk ke ahli media pendidikan; Mereka yang bergelar S3 atau Ph.D. Kami membawa boneka tersebut ke para ahli media pendidikan, dalam hal ini hanya dua ahli media pendidikan yang kami temui. Kami melakukan FGD terkait boneka yang ingin dijadikan sebagai media pembelajaran. Lalu meminta (wawancara) saran dan kritiknya terkait boneka tersebut. Nah diakhir pertemuan, kami meminta agar kuesioner uji validasinya diisi oleh para ahli media tersebut sebagai bukti bahwa kami telah melakukan uji validasi produk.
   Sebenarnya, cukup FGD dan wawancara itu sudah lumayan karena sudah banyak memperoleh data data hasil uji validasi melalui teknik tersebut. Tetapi karena tujuannya untuk lomba yang harus diperkuat temuannya, maka kuesioner pun ada sebagai bentuk lampiran data uji validasi produk.

5. Main Product Revision (Melakukan Revisi Utama)

   Setelah produk melakukan uji validasi, maka produk tersebut direvisi berdasarkan hasil saran dan masukan-masukan dari para ahli melalui FGD dan wawancara tadi. Dengan kata lain, produk tersebut diperbaiki sesuai dengan saran dan kritik dari para ahli. Sedangkan kuesionernya menjadi bukti lampiran bahwa kita (peneliti) telah melakukan uji validasi produk.
Contohnya, bisa dibaca dari paragraf di atas, kata "produk" diganti menjadi "boneka". Oke? :3 Monggo dibaca ulang. 
6. Main Field Testing (Melakukan Ujicoba Lapangan Utama)

   Setelah produk direvisi/diperbaiki, maka selanjutnya produk tersebut memasuki tahap ujicoba utama ke lapangan. Dalam hal ini, produk yang telah kita buat harus melakukan ujicoba ke masyarakat. Namun pada tahap ini, jumlah masyarakatnya masih terbatas atau jumlahnya masih dibatasi. Dan peneliti bisa menentukan jumlahnya. Tergantung teknik pengambilan sampel.

   Nah mulai nih memasuki tahap yang sedikit menyiksa, ialah ujicoba lapangan pada produk media pembelajaran, Boneka. Namun ujicoba lapangan ini masih terbilang terbatas. Dengan kata lain, jumlah siswa dan sekolahnya masih dibatasi. Nah kami melakukan ujicoba lapangan terbatas ini di salah satu sekolah dengan pengujian produk pada siswa kelas IV.B. Terdapat tiga kelas IV di sekolah yang kami kunjungi, IV. A, IV.B, dan IV.C. Mengapa hanya siswa kelas IV.B? Karena kami menggunakan sampel insidental dan menyesuaikan analisis kebutuhan yang diperoleh sebelumnya. Nah selain itu, kami mengundang sebanyak dua guru sebagai pengamat (observer) produk yang kami bawakan, boneka. Kami memberikan sebuah kuesioner kepada guru guru tersebut untuk diisi sesuai hasil pengamatannya. Dalam hal ini, keefektivan media pembelajaran boneka tersebut. Lalu di akhir pertemuan, kami melakukan wawancara lagi untuk mendapatkan revisi dari boneka ini.

7. Operational Product Revision (Revisi Operasional Produk)

  Selanjutnya hasil dari ujicoba utama di atas, dilakukan revisi kembali untuk selanjutnya dioperasionalkan ke lapangan yang lebih luas. Pada tahap ini, peneliti melakukan revisi produk berdasarkan masalah-masalah yang diperoleh pada saat menguji coba lapangan terbatas.

   Karena kami tidak menemukan masalah terkait produk bonekanya, jadi tak ada yang perlu kami revisi dari produk tersebut. Hanya saja, saran dari guru guru di atas mengenai cara mengajar dari salah satu tim peneliti yang masih sedikit kaku (kurang percaya diri). Jadi, itu saja sih yang perlu direvisi. Maklum, ujicoba lapangan pertama. Jadi masih kurang percaya diri.

8. Operational Field Testing (Ujicoba Lapangan Operasional)

   Peneliti selanjutnya melakukan ujicoba lapangan operasional. Maksudnya adalah produk yang telah direvisi, selanjutnya melakukan ujicoba pada lapangan yang lebih luas. Dalam hal ini, jumlah masyarakatnya lebih banyak daripada ujicoba terbatas yang sebelumnya.

   Nah tahap ini, kami telah mengunjungi dua sekolah, dan memasuki keseluruhan jumlah kelas IV -nya. Namun, kami tetap menggunakan sampel insidental untuk siswa dan guru gurunya. Sedangkan untuk prosesnya sendiri, sama kok yang tertulis di ujicoba lapangan terbatas. Yang membedakan hanyalah kuantitas respondennya, baik dari siswa maupun dari guru gurunya sebagai observer (pengamat)

9. Final Product Revision (Revisi Produk Akhir)

   Nah tahap selanjutnya, setelah produk melakukan ujicoba lapangan operasional dan peneliti masih menemukan masalah pada produk yang dibuat, maka peneliti harus memperbaiki kembali atau merivisi lagi produk yang dibuat tersebut sebelum akhirnya diimplementasikan. (Apabila masih terdapat masalah pada produk).

   Nah disini, revisi produk akhirnya sudah tidak ada lagi. Karena alhamdulillah saran dan kritiknya pada bagus. Pengisian kuesioner dari guru guru observer juga memuaskan. Wawancara ke siswa siswa juga memuaskan. Bahkan mereka berharap agar ke depan bisa hadir lagi membawa bonekanya. Secara keseluruhan ujicoba, teknik analisis data yang kami gunakan adalah mix method (kombinasi), baik kualitatif maupun kuantitatif. Kualitatif berfungsi untuk menjabarkan temuan temuan hasil wawancara yang didukung oleh teori teori yang serupa. Sedangkan kuantitatif berfungsi untuk mendapatkan persentase keefektivan boneka sebagai media pembelajaran (ada rumusanya).

10. Dissemination and Implementation (Desiminasi dan Implementasi Produk)

   Tahap terakhir adalah mendesiminasikan dan mengimplementasikan produk yang telah melalui berbagai macam ujicoba; Uji validasi, ujicoba lapangan terbatas (utama) dan ujicoba lapangan luas (operasional). Jadi peneliti telah menemukan variabel dependennya. Maksud dari "Desiminasi" adalah peneliti membuat laporan penelitian mengenai produk yang telah diteliti dan dikembangkan (R&D), untuk selanjutnya dipublikasi pada jurnal jurnal dan dipresentasikan pada sebuah forum penelitian yang serupa (konferensi). Sedangkan "Implementasi" adalah peneliti siap mendistribusikan secara komersial (bisnis) terhadap produk yang telah dibuat dan dikembangkan, dengan catatan "peneliti harus memonitor produk yang telah didistribusikan guna membantu dan mengontrol mutu dari produk tersebut".

   Bentuk desiminasi kami disini adalah mengikutsertakannya pada lomba lomba KTI sejenis. Setelah mengikut sertakan, apabila ada dana (diusahakan), maka diikutsertakan pada konferensi penelitian sejenis. Mengapa harus lomba KTI terlebih dahulu? Karena lomba KTI lebih terasa jiwa persainganya ketimbang langsung masuk konferensi.
  Konferensi itu kegiatan berprofit, jadi makin banyak yang lolos, makin untung si pihak penyelenggara. Berbeda dengan lomba KTI, yang membatasi KTI untuk dimasukkan dan diseleksi hingga ke tahap finalis. Iyakan? Lebih terasa persaingannya kalau LKTI. Tetapi pada akhirnya, akan dipublikasi secara resmi pada jurnal jurnal penelitian serupa melalui konferensi.
   Sedangkan bentuk implementasinya, kami tidak mendistribusikannya secara komersial karena terbatas akan ruang dan waktu. Dalam hal ini, belum saatnya untuk berbisnis sebuah produk boneka. Pertanyaannya, siapa yang akan memonitor produk? Untuk sekarang, kami tidak bisa memonitor secara berkala pada boneka tersebut. Yang ada, ngga wisuda wisuda jadinya. Inilah yang menyebabkan metode R&D itu longitudinal (memakan waktu yang lama). Tetapi bisa berbisnis kita.

   Langkah langkahnya panjang? Iya, emang panjang. Hahahaha :p 
Jujur, tahap di atas itu penulis telah menginterpretasikannya sesuai pengalaman dan menyesuaikan dengan status kita yang masih sebagai mahasiswa cupu S1, (masih belajar metodologi penelitian). Kalau mau aslinya, lebih rumit dan cocoknya untuk mahasiswa yang mengejar gelar S2 atau bahkan S3 (asumsi). Tahap di atas, penulis telah menjalani bersama dua peneliti yang tergabung dalam satu tim peneliti.
   Dan penulis sendiri telah menjalani metode R&D sebanyak dua kali, ialah sebuah produk pemertahanan ancaman kepunahan bahasa, dan juga media pembelajaran berupa boneka sebagai model pembelajaran pada siswa Sekolah Dasar (SD). Namun peneliti tidak sampai melakukan implementasi (distribusi komersial), cukup desiminasi (ikut lomba karya tulis ilmiah dan konferensi untuk mempublikasi sebagai hak cipta). Dan sumpah, terasa capeknya, apalagi di akhir akhir ujicoba. Bahkan penulis sempat mengalami Vertigo malah sakin seringnya berhadapan dengan laptop dan buku buku demi mencoba metode R&D ini.

   Namun, ada kabar baik dari Professor Sugiyono. Model R&D, pendekatan Professor Sugiyono mengklasifikasikannya ke dalam beberapa level/tingkatan; Level 1, Level 2, Level 3 dan Level 4 (terakhir). Hal tersebut akan lebih memudahkan kita dalam menjalani langkah langkah model R&D berdasar pada pendekatan Professor Sugiyono. Tapi, tidak untuk dibahas dan dilanjutkan pada tulisan ini. Mungkin next postingan, in syaa Allah.. Ingatkan saja! Namun sebelum mengingatkan, ada baiknya langkah langkah di atas sudah harus dipahami. Sebab Prof. Sugiyono sendiri hanya berdasar pada pendekatan Borg and Gall (1989).

Sekian dan terima kasih, assalamualaikum wr.wb..
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para peneliti muda, Hidup mahasiswa S1!!!! See you on top!! Liat deh, subhanallah... stabilo ini menyala dalam kegelapan! *Bersambung*
Read More
Bagaimana itu GRE?

Bagaimana itu GRE?

   Tulisan ini merupakan hasil pemahaman penulis terkait GRE General Test setelah beberapa hari terakhir penulis membaca buku panduannya dalam menghadapi tes, The Official Guide to the GRE Revised General Test Second Edition. Dan postingan ini merupakan review pertama dari penulis yang in shaa Allah mulai dari sekarang akan konsisten menulis review-nya. Aamiin aamiin Allahuma aamiin.
   GRE (Graduate Record Examination) General test merupakan salah satu ujian masuk perguruan tinggi di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. GRE terbagi atas dua jenis tes, baik berupa paper based test maupun computer based test. Namun tidak semua perguruan tinggi luar negeri memberikan syarat GRE untuk bisa mendaftar ke perguruan tinggi tujuan. GRE ini hanya diperuntungkan bagi perguruan tinggi yang termasuk ke dalam 10 atau 20 besar peringkat dunia, misalnya MIT, Harvard University, Oxford University, Cambridge University, Chicago University, Stanford University, dan lain sebagainya. Terlebih dengan perguruan tinggi yang tergabung ke dalam kelompok The IVY League.
   Salah satu dari kelompok The IVY League dan masuk pada peringkat 5 besar dunia adalah Harvard University misalnya yang mewajibkan syarat GRE General test untuk bisa mendaftar pada perguruan tinggi tersebut, khususnya untuk program studi master pada jurusan Language and Literacy of Harvard University. Walaupun jurusan tersebut tidak memberikan standar nilai bahwa berapa total skor GRE yang dibutuhkan agar bisa tembus ke Harvard University? Namun pihak universitasnya memberikan kesempatan untuk mengambil tes kedua kalinya dan mengumpulkan hasil kedua tes tersebut untuk melakukan perbandingan nilai. Asumsi saya adalah, Harvard University akan melihat perkembangan mahasiswa pada hasil kedua tes GRE tersebut, apakah ada peningkatan nilai atau justru tidak! Apabila ada peningkatan drastis, maka mahasiswa ini berpeluang besar untuk bisa tembus menjadi mahasiswa Harvard University, (ini masih asumsi dari penulis, dan akan dicari tahu lebih lanjut).
   Kembali ke topik utama, ialah GRE General Test. Nah pada GRE General test, terbagi atas beberapa kemampuan yang akan diuji;
    • GRE Analytical Writing
        GRE Analytical Writing merupakan tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan kita dalam berpikir kritis dan menganalisis sebuah tulisan. Tes ini terbagi atas dua bagian; ialah Analyze an Issue dan Analyze an Argument. Masing masing tes pada bagian tersebut memiliki durasi waktu yang sama untuk mengerjakannya, ialah 30 menit/tes.
         Oh iya, berdasarkan referensi yang saya baca pada tes ini, tim penilai GRE General Test tidak menilai jawaban kita apakah benar atau salah. Melainkan mereka akan menilai terhadap kemampuan kita dalam menekan, mengartikulasi dan mengembangkan ide kita pada suatu topik. Selama kita tetap concern, koheren dan fokus terhadap tulisan kita, maka disitulah yang menjadi nilai poin kita pada GRE General Test.
    • GRE Verbal Reasoning
         GRE Verbal Reasoning merupakan tes yang bertujuan untuk mengukur pemahaman kita terhadap ketiga bagian soal soal berikut; Reading Comprehension questions, Text Completion questions dan Sentence Equivalence questions. Namun secara keseluruhan pada soal soal tersebut, terdiri dari 25 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 35 menit.

    • GRE Quantitative Reasoning
         Tes yang terakhir adalah GRE Quantitative Reasoning, ialah sebuah tes untuk mengukur kemampuan kita dalam menghitung. Tes ini terbagi atas 3 kemampuan yang akan diukur; Matematika Dasar, Pemahaman terhadap Konsep Matematika Dasar, serta Kamampuan dalam mengukur secara kuantitatif terhadap model dan juga penyelesaian masalah dengan menggunakan metode kuantitatif. Berbeda dengan GRE Verbal Reasoning, pada tes ini terdapat empat tipe soal soal yang akan menguji pemahaman kita terkait kuantitatif; Quantitative Comparison questions, Multiple-choice questions (Pilih salah satu jawaban), Multiple-choice questions (Bisa memilih satu atau lebih dari satu jawaban) dan Numeric Entry questions. Namun secara keseluruhan pada soal soal tersebut, terdiri dari 25 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 35 menit.
     Lalu, bagaimana dengan skor penilaian GRE General Test?
    Skor pada GRE General Test terbagi atas 3 bagian sesuai dengan jenis jenis kemampuan yang diuji;
    1.  GRE Analytical Writing menilai dari 0 hingga 6 skor penilaian. Dan ingat! Pada skill ini, tim penilai GRE tidak melihat jawaban kita apakah benar atau salah. 
    2.  GRE Verbal Reasoning menilai dari 130 hingga 170 skor penilaian.
    3. GRE Quantitative Reasoning menilai dari 130 hingga 170 skor penilaian.
    Namun apabila terdapat salah satu kemampuan yang tidak bisa dijawab (misalnya., Verbal Reasoning), maka kita akan mendapatkan laporan NS (No Score) untuk mengukur kemampuan tersebut. Nah biasanya, skor kita akan muncul maksimal 6 minggu setelah kita mengambil tes GRE General test. 
       Hmm.. mungkin ini saja dulu yang bisa saya review terkait GRE General Test secara umum. Selanjutnya mungkin akan lebih khusus lagi, ialah membahas masing masing ketiga kemampuan tes di atas. Sebagai penutup pada tulisan kali ini, berikut 3 kunci keberhasilan, 
    1. Man Jadda Wa Jada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
    2. Man Shobaro Zafiro (Siapa yang bersabar akan beruntung)
    3. Man Saaro 'Alaa Darbi Washola (Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai)
    Terima kasih, wassalamualaikum, wr. wb.. See You On Top! aamiin aamiin allahuma aamiin..

    Read More
    EDx STUDENT ONLINE OF HARVARD MOOC

    EDx STUDENT ONLINE OF HARVARD MOOC

       Edx Student Online merupakan layanan kursus singkat/short course secara daring (online). Sebelum masuk pada Short Course Online ini, essai yang saya mempresentasikan adalah potensi negara Indonesia sebagai negara multikultural dengan berbagaimacam bahasa, agama, suku dan adat istiadat. Saya belajar banyak mengambil kursus daring ini, ternyata perjuangan justru dirasakan pada saat menjalani kursusnya. Bukan pada saat tahap administrasinya.
        Perbedaan waktu antara Amerika dan Indonesia yang paling saya rasakan. Saya harus menyesuaikan waktu Amerika yang bahkan saya berada di Indonesia. Merelakan waktu tidur di malam hari hingga pukul 01.00 AM atau bahkan 03.00 AM demi mengikuti kelas kursusnya. Terlebih lagi dengan bentuk daring yang bahkan ini adalah pengalaman pertama saya. 
    By the way, tulisan ini bukan bentuk keluhan, tetapi bentuk penetralisir terhadap apa yang ada di dalam pikiran (Biar ngga stress stress amat). 
       Berbagaimacam session yang harus saya lewati untuk mengikuti kelas kursusnya. Dan tiap session mempunyai bahan bacaan yang berbeda beda tetapi tetap satu tema, ialah Language and Culture;
    1. Language Revival: Securing the Future of Endangered Languages
    2. Culture: Religion, Conflict and Peace
       Tema pertama merupakan tema yang menyangkut kepunahan bahasa dan dibawakan khusus oleh seorang professor dari University of Adelaide , ialah prof. Zuckermann.
       Prof. Zuckermann memang sangat tertarik pada penelitian ilmu bahasa, terutama pada ancaman kepunahan bahasa. Berbagai macam  jurnal publikasi internasionalnya terkait bidang  ilmu bahasa (linguistik); mulai dari language revival, sociolinguistics, historical linguistics, language identity, dan masih banyak lagi. Silakan Klik Disini. Begitupun dengan kursus online ini, beliau membagikan ilmunya mengenai tindakan kita terhadap ancaman kepunahan bahasa.
       Adapun tahap tahap yang harus saya masuki untuk mengikuti kelas kursusnya, antara lain;
       Tahap pertama, saya harus melewati Language revival terlebih dahulu untuk melangkah ke tema selanjutnya.  Bahan bacaannya pun tidak main main pada setiap session-nya. Dan bukan cuma bahan bacaan yang harus dipahami, tetapi juga mendengarkan penjelasan dari prof. Zuckermann melalui vidio daringnya.
       Dibawah ini merupakan syllabus pelajaran yang harus saya pahami. Tiap topik memilik sub-bab yang berbeda beda. Dan sampai saat ini, saya masih berada pada Linguicide (Case for Revival). 
       Nah, yang kedua, maksud saya adalah tahap kedua. Setelah melalui Language Revival, maka saya pun akan dialihkan ke budaya, ialah Religion, Conflict and Peace (Agama, Konflik dan Perdamaian). Materi ini pun memiliki syllabus tersendiri yang dibawakan oleh Prof. Diane Moore, Harvard Divinity School of Harvard University. Namun sayang, saya tidak bisa memperlihatkan syllabusnya seperti yang di atas. Mengapa? Karena syllabus yang diberikan itu berupa situs daring. Tidak seperti syllabus Language Revival dimana saya bisa mengunduhnya, lalu menampilkannya di sini.
       Sekilas mengenai tema kedua ini, Prof Moore membagikan ilmunya tentang bagaimana cara pandang kita terhadap perbedaan, khususnya tentang agama. Beliau cenderung menyadarkan kita agar lebih bijaksana dalam memandang suatu perbedaan agama. 
      
       Prof. Moore merupakan seorang direktur Religious Literacy Project of Harvard University. Beliau juga merupakan anggota senior pada Center for the Study of World Religions. Beliau memfokuskan penelitiannya pada pemahaman publik tentang agama melalui kacamata pendidikan secara kritis,  Klik Disini.
       Pada kursus online ini, kita tidak semerta merta hanya membaca dan memperhatikan vidionya semata. Tetapi juga kita mempunyai situs khusus untuk berdiskusi dengan teman kelas lainnya. Situs tersebut berbeda dengan situs kelas materinya.  Jadi, apabila kursusnya sudah bersambung, maka kita dialihkan ke situs khusus untuk berdiskusi. Begini tampilan profil saya pada situs khususnya,

        Sekilas tentang situs berdiskusinya, situs tersebut mirip dengan Facebook dimana kita mempunyai profil, bisa memposting status, berkomentar maupun like, bahkan mempunyai menu obrolan (chat) layaknya Facebook. Namun perbedaanya adalah kita diikat oleh peraturan dimana situs tersebut tidak memperbolehkan student untuk memposting di luar dari topik pembahasan. Bahkan berkomentar di luar topik pun ngga boleh sama sekali karena hal tersebut dinilai. Terlebih lagi, jumlah kata pada setiap postingan dan komentar pun dinilai. Begitupun dengan jumlah Like. Jadi, setiap postingan maupun komentar musti berbobot, jelas, padat dan tepat. Kenapa harus berbobot? Supaya kita bisa memperoleh like dari teman teman kursus kita, dan itu dinilai.
       Badewei, kursus ini menyediakan sertifikat internasional yang resmi, bahkan mempunya ID Certificate (Jadi bisa dilacak keasliannya). Namun, saya harus memenuhi standar penilaiannya. Setelah memenuhi standar, maka ada tahap administrasi yang berbayar untuk memperoleh sertifikatnya. Namun untuk saat ini, saya tidak terlalu memikirkan bayarannya, saya hanya berfokus pada ilmunya saja dulu. Kalau ada uang, kenapa tidak kita bayar? It's about 50 Dollars to reach it. Sampel sertifikatnya seperti di bawah ini, saya memperolehnya dari alumni Harvard MOOC itu sendiri melalui situs diskusi di atas..
    Dan kita akan diinformasikan melalui pos-e apabila telah memenuhi standar penilaian.
       Sebenarnya saya mempunyai inisiatif untuk meninjau (review) hasil pembelajaran saya melalui Blog ini pada setiap session-nya. Tetapi saya sedikit khawatir dan belum mau berjanji, takutnya saya salah paham terkait materinya. Kita liat saja nanti, kalau saya bisa memahami materi kursusnya, maka saya akan review materinya di sini. Doakan saja, semoga berhasil menjalani kursusnya. Terlebih lagi, ada tugas yang akan diberikan ke kita kedepannya, ialah mid dan final test. But, yeahh.. I love challenge.. See You on Top!!!
       Kursus ini sangat resmi dan dapat dipercayai, bahkan kursusnya pun tercantum pada laman profil professor-professor di atas pada situs resmi universitasnya.
    Read More
    SEMANGAT MEMBACA BUKU ILMIAH: WAJIB BAGI AGAMA ISLAM

    SEMANGAT MEMBACA BUKU ILMIAH: WAJIB BAGI AGAMA ISLAM

    Assalamualaikum wr,wb, apa kabarnya?
       Sebelumnya, saya sudah pernah nulis tentang Membaca Buku Yang Lebih Nikmat. Tetapi tulisan tersebut hanya cocok untuk bahan pustaka yang sifatnya fiksi; seperti novel, kumpulan cerpen ataupun puisi. Nah, bagaimana dengan jenis buku non-fiksi (ensiklopedia)? Atau bahan pustaka ilmiah? 
       Oke, saya sudah temukan solusinya. Tetapi solusi ini dikhususkan hanya untuk yang beragama islam saja. Dan tulisan ini hampir sama dengan tulisan Sebelumnya, yang membedakan hanyalah bentuk eksekusinya saja. Baiklah, tanpa banyak basa basi, silakan simak poin poin berikut ini.

    ALAT DAN BAHAN
    • Pastikan Kita Mempunyai Buku
        Nah pastikan kita mempunyai bahan bacaan, apapun judulnya selama buku tersebut merupakan buku ilmiah. Nah di sini, saya sudah mempunyai beberapa koleksi buku buku ilmiah secara umum, klik Disini. Sedangkan secara khusus, ialah buku ilmiah mengenai ilmu bahasa, klik Disini. Dan untuk mengetahui jenis jenis buku, klik pranala berikut, Kemayoran.
    • Wajib Mempunyai Pelantang
      Sebenarnya ada beberapa jenis yang namanya pelantang. Tetapi pada umumnya, hanya dua yang akan saya sebutkan, ialah Headphone dan Earphone. Lalu apa perbedaan antara Headphone dan Earphone? Untuk melihat perbedaannya, lihat gambar di bawah ini,
      Bagaimana dengan kemangkusannya? Untuk kemangkusannya sendiri, saya justru lebih suka menggunakan Headphone ketimbang Earphone. Mengapa? Karena penggunaan Earphone lebih berpotensi terhadap suara yang masuk dari luar. Sedangkan Headphone justru sebaliknya karena terdapat bantalan yang mampu menutupi seluruh permukaan telinga sehingga suara dari luar pun tidak akan terdengar oleh kita. Jadi kita lebih fokus membaca buku ilmiahnya pada saat menggunakan Headphone ketimbang Earphone
    • Wajib Mempunyai Teknologi Modern Masa Kini
     Sudah dipastikan kalau orang yang membaca tulisan ini, pasti mempunyai alat teknologi modern berupa Handphone/Smartphone ataupun Laptop/Komputer. Nah loh? Iya, trus yang ada di depan kamu sekarang apa? Itu punya kamu-kan? :3 Nah kita manfaatkan teknologi tersebut di luar dari fungsi yang sesungguhnya, ialah sebagai  alat penunjang untuk fokus terhadap bahan bacaan ilmiah.

     EKSEKUSI 
    Nah, setelah Alat dan Bahan telah tersedia, maka tahap selanjutnya adalah eksekusi, berikut tahapannya;
    • Wajib Unduh Musik Allahummarhamna Bil Quran
        Pada eksekusi pertama, kita harus mengunduh musik Allahummarhamna Bil Quran terlebih dahulu. Mengapa harus musik tersebut? Saya belum tahu alasan ilmiahnya mengapa, tetapi irama musiknya itu yang sangat membangkitkan gairah dan semangat untuk belajar. Mungkin karena ada campur tangan tuhan, jadi musik tersebut sangat berpengaruh di dalam diri kita. Coba aja.. Kalau saya pribadi, sangat sangat berhasil dan it's worth it. Nah di atas itu adalah bentuk vidionya, berikut bentuk musiknya (MP3) yang bisa diunduh langsung melalui Handphone kita.
    Judul : File Belajar
    Durasi : 3.52 Menit
    Ukuran : 3.55 Mb
    Unduh : Disini
      Apabila diunduh melalui PC/Laptop ataupun Komputer, saran saya untuk lebih mudahnya, kita salin musik tersebut ke dalam memori Hanphone/Smartphone agar bisa dibawah kemana mana. Jadi, pada saat ingin membaca buku ilmiah di luar ruangan, maka akan lebih mudah mendengarkan musik tersebut sambil membaca. Dengan catatan, baik di luar maupun di dalam ruangan, wajib menggunakan pelantang pada saat mendengar musiknya. Terlebih lagi kita membacanya di ruangan yang terbuka, maka berbagai inspirasi pun akan terus mengalir yang berdampak pada motivasi kita.
    • Tidak Wajib (Sunnah)
       Poin ini saya katakan tidak wajib (sunnah) karena ini tergantung kepercayaan diri saja. Mengapa demikian? Karena jujur saja, saya lebih suka membaca di luar ruangan ketimbang di dalam ruangan. Nah, sempat kamu dan saya sama, lebih suka membaca dengan ruangan yang terbuka. Maka, saran saya adalah buku yang kita baca itu musti privasi kita (ngga boleh ada yang tahu bahwa buku apa yang sedang kita baca).
       Saya pribadi tidak cukup percaya diri untuk menampilkan buku buku kesukaan saya. Maka saya pun membungkus cover-nya dengan bungkusan yang mampu menutupi judul dan gambar pada cover buku tersebut. Jadi dimanapun saya berada, kalau saya suntuk dan gak tahu mau buat apa?!? Yah udah, pergi saja ke suatu tempat yang tenang dan baca bukunya sambil mendengarkan musiknya. Tenang saja, mereka ngga tahu kok mengenai buku apa yang sedang kita baca. :)
      Baiklah, itulah sedikit tips yang mungkin bisa saya bagikan hari ini, semoga tulisan di atas cukup memberikan manfaat kepada kita semua. Apabila ada yang kurang jelas, silakan berkomentar di bawah postingan ini. Terima kasih, wassalamualaikum wr. wb.., See you on Top!!!
    Read More
    TUJUH TIPS BAGAIMANA BELAJAR BAHASA BARU: Dari Penerjemah TED

    TUJUH TIPS BAGAIMANA BELAJAR BAHASA BARU: Dari Penerjemah TED

    Tulisan ini dikembangkan dari situs resmi Lesson Worth Sharing: TEDEd untuk menjadi tulisan dengan bahasa yang santai dan lebih mampu dimengerti. (semoga) -__-"
    Oke, langsung saja..
    Mengetahui lebih dari satu bahasa merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi otak. Tapi apa nih kira kira cara terbaik dalam mempelajari tiap bahasa Asing? Nah kebetulan sekali kalau relawan dari TED's Open Translation Project membagikan sedikit pengalamannya dalam mempelajari bahasa Asing. Pengalaman tersebut dikemas kedalam bentuk tips tips yang harus/wajib kita lakukan sama sama. Apa sajakah tips tips itu? So, berikut 7 tipsnya;

    • CAPAIAN SEDERHANA
    Tentukan capaian kita dalam mempelajari bahasa tersebut. Capaian ini harus dikemas sesederhana mungkin. Mengapa? Karena hal tersebut berkaitan dengan motivasi kita dalam mempelajarinya. Apabila capaian itu terlalu rumit, maka hal tersebut akan menjadi beban terhadap diri kita. Sebaliknya, apabila capaian itu dibuat sederhana, maka hal tersebut tidak akan menjadi beban terhadap diri kita.
       Penerjemah bahasa Jerman, Judith Matz, mengemukakan bahwa "Pada awal mempelajari bahasa baru, tuliskan tiap 50 kata untuk selanjutnya dipraktekkan ke orang orang di sekitaran kita baik secara daring maupun luring. Kemudian, perlahan lahan pelajari tata bahasanya melalui percakapan kita ke orang orang tersebut". Beliau meyakinkan bahwa dari 50 kosakata tersebut, secara tidak sadar akan berkembang melalui percakapan kita dengan orang orang.
    • GAYA HIDUP
    Elisabeth Buffard telah mengajar bahasa Inggris selama 27 tahun. Beliau mengatakan bahwa "KONSISTEN" merupakan kunci untuk membedakan siswa yang paling sukses daripada siswa yang lain. Maksudnya apa? Kekonsistenan merupakan kunci keberhasilan dalam mempelajari suatu bahasa Asing. Untuk menumbuhkan rasa tersebut, beliau menyarankan bahwa tumbuhkan kebiasaan di dalam diri kita dalam mempelajari bahasa asing. Lalu, kebiasaan tersebut dijadikan sebagai salah satu poin terhadap gaya hidup kita.
       Sebagai contoh, saya menyukai jogging (lari lari kecil) di sebuah alun alun kota tempat saya tinggal. Dan setiap saya jogging, saya memegang sebuah hafalan kecil untuk saya pelajari. Jadi pada saat lari lari, saya pun sambil menghafalnya. Dan disitulah gaya hidup saya dalam mempelajari bahasa Asing (Olahraga sambil menghapal). Hal ini sangat berpengaruh terhadap kekonsistenan saya pribadi. Bagaimana tidak? Pada saat letih pun (lari lari) saya tetap mempelajarinya, apalagi pada saat dalam keadaan yang santai.
    • RUMAH SEBAGAI PEMBELAJARAN BAHASA ASING
       Semakin kita mengundang bahasa Asing ke dalam rumah kita, semakin membudidaya bahasa tersebut di dalam otak kita (kebiasaan sehari hari). Maksudnya apa? Olga Dmitrochenkova mengatakan bahwa "Gunakan benda benda yang ada di dalam rumah untuk memperoleh kosakata kosakata baru dari bahasa yang kita pelajari". Sebagai contoh, kita bisa membeli stiky note untuk memberi label (kosakata bahasa asing) pada setiap nama nama benda yang ada di dalam rumah.
    • PEMANFAATAN TEKNOLOGI
    Biarkan teknologi membantu Anda. Dmitrochenkova memiliki ide yang sangat bagus, "Hal yang mudah dilakukan seperti menyetel ulang bahasa di Handphone dapat membantu kita mempelajari kata-kata baru".
       Atau kita bisa mencari kesempatan belajar yang lebih terstruktur secara daring. Misalnya penerjemah Belanda, Els De Keyser, merekomendasikan aplikasi "Duolinguo" untuk mempelajari tata bahasa, dan aplikasi "Anki" untuk menghafal kosa kata dengan kartu kilatnya yang cerdas.
    • PIKIRKAN HAL HAL YANG MENARIK
        Pikirkan bahwa belajar bahasa sebagai pintu gerbang menuju pengalaman baru. Bagi penerjemah bahasa Spanyol, Sebastián Betti, beliau mengatakan bahwa belajar bahasa selalu berfokus pada pengalaman baru, mulai dari "mengunjungi tempat hiburan, menikmati puisi koboi dan festival folk-rock". Dengan kata lain, dia memikirkan hal-hal yang menyenangkan pada saat mempelajari bahasa Asing, dan menjadikannya kesempatan belajar bahasa baru.
       Tak hanya Sebastián Betti, tetapi juga banyak penerjemah dari TEDed membagikan tips yang sama. Sebagai contoh, penerjemah Italia dan Prancis, Anna Minoli yang belajar bahasa Inggris dengan menonton film favoritnya. Sementara penerjemah bahasa Kroasia, Ivan Stamenković, tiba-tiba menyadari bahwa dia dapat berbicara bahasa Inggris pada saat duduk di kelas lima setelah bertahun-tahun menonton Cartoon Network tanpa subtitel. Jadi lain kali, temukan suatu hal hal yang menyenangkan dari bahasa yang ingin kita pelajari.
    • TEMUKAN JARINGAN YANG LEBIH LUAS
        Berinteraksi dalam bahasa baru adalah kunci untuk memperluas jaringan kita dalam menemukan teman teman baru. Biasanya nih yah, kita kesusahan dalam menemukan penutur asli di sekitaran kita. Jadi penulis sarankan agar mencarinya secara daring. Dengan catatan, mereka (penutur asli) merasa sukarela untuk saling membantu dalam mempraktikkan bahasa masing-masing.
       Dengan ini, penulis memberikan beberapa pranala Whatsapp group yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk mempraktekkan bahasa Asing kita kepada penuturnya langsung (memperluas jaringan). Silakan bergabung dengan menekan pranala berikut:
    Catatan: Disarankan agar mampu berbahasa Inggris terlebih dahulu.
    1. We speak Indonesia 
    2. Portugis/English  
    3. Franch Space 
    4. Spanish Space 
    5. Improve English 
    6. Urdu
    7. Persian
    8. Arabic
    9. Turki
    10. Mandarin
    11. Aprendemos Português
    12. Wir lernen Deutch (Jerman)
    13. Hindi
    14. We Learn Lingala
    15. Hebrew
    16. Discimuse Latine (Latin)
    17. Hablamos Español
    18. Rusia
    19. Parliamo Italiano (Italia)
    •  JANGAN KHAWATIR MEMBUAT KESALAHAN
         Salah satu hambatan yang paling umum untuk bercakap-cakap dalam bahasa baru adalah rasa takut melakukan kesalahan. Padahal ada kalanya penutur asli mengerti keadaan kita. Mereka justru menganggap bahwa kita adalah seorang yang jenius dan berbakat dalam dunia bahasa. Mereka akan menghargai usaha kita dan bahkan membantu kita untuk memperbaiki kesalahan. Penulis mempunyai pengalaman nih dimana penulis mempraktekkan bahasa Belanda kepada salah satu orang tua yang telah lanjut usia. Hingga akhirnya saya dan orang tua tersebut sudah seperti cucu dan kakek.
       Nervous menyarankan bahwa cobalah menguji kemampuan bahasa kita dengan penutur asli yang sedikit lebih muda atau justru lebih tua. Dan bersabarlah dalam membangun hubungan kita dengan penutur asli tersebut. Semakin banyak kita berbicara, semakin dekat hubungan kita yang akan berpotensi terhadap apa yang kita cita-citakan (kefasihan asli). 

    Demikian 7 tips yang diinterpretasi dari Lesson Worth Sharing: TEDEd. Semoga tips di atas bermanfaat dan jangan lupa untuk membagikan ke seluruh teman teman yang juga menyukai dunia bahasa. Berikut profil saya pada laman TEDed layaknya para pemberi tips di atas, Hasrullah
    Sekian, jika ada yang kurang jelas, silakan beri komentar pada kolom komentar di bawah. Wassalamualaikum wr.wb.., See you on top!!
    Oh iya satu lagi, bagi teman teman yang kekurangan bahan pustaka untuk mempelajari bahasa asing, silakan masukkan email teman teman di bawah tulisan ini (bukan di kolom komentar). Nanti dikirimkan langsung melalui email. Atau langsung menuju laman berikut, Bahan Pustaka Bahasa. :)
    Read More
    EDUCATIONAL RESEARCH FOR COMPETENCIES: COMPETENCIES FOR ANALYSIS AND APPLICATIONS

    EDUCATIONAL RESEARCH FOR COMPETENCIES: COMPETENCIES FOR ANALYSIS AND APPLICATIONS

       Saya pribadi belum habis membaca keseluruhan buku ini, dan untuk memahaminya pun sedikit bekerja keras karena berbahasa Asing. Tetapi sekilas saja, kalau buku ini sangat sangat rekomendasi untuk dipahami oleh para peneliti. Bagaimana tidak? Membaca buku ini, saya langsung merasa bodoh, merasa terbelakangan, bahkan jikalau saya ingat pada saat menjadi pemateri (KTI) untuk teman teman lain, saya langsung malu, malunya bukan main, yah tuhan :( . Betapa hebatnya saya ngomong, berbicara depan mereka, sedangkan bahan pustaka saya begitu kuno yang bahkan tidak digubris lagi oleh para peneliti sekarang (saya terbelakangan). I am sorry..
        Banyak banget istilah istilah riset yang belum saya ketahui di dalam buku ini. Jujur, yang saya andalkan hanyalah bukunya Sugiyono semata, pengeluaran terbarunya adalah tahun 2012. Dan jika saya bandingkan dengan bukunya Sugiyono, buku ini justru lebih diulas secara mendalam. Yang saya bingungkan terhadap buku ini adalah, sebenarnya ada berapa metode dalam penelitian? Berdasar pada bukunya Sugiyono tahun 2012, Sugiyono justru hanya membagi pada 4 pendekatan (metode) penelitian; Kuantitatif, Kualitatif, Eksperimen dan Reasearch and Development (R&D). Kalau buku ini banyak banget pembagian metodenya, dalam bahasa Indonesianya; sudah pasti masuk kualitatif dan kuantitatif. Lalu ada lagi pendekatan (metode) Campuran (kuali dan kuanti), Aksi, Ulasan (Tinjauan) dan Reportasi. Sedangkan Eksperimen justru masuk pada bagian dari tipe atau section dalam menjalankan pendekatan di atas. Ada banyak section-nya, mulai dari Eksperimen tadi, Survei, Korelasi, Perbandingan-Kausal, Eksperiment-tunggal, Statistik Inferensi, Etnografik, Studi Kasus, dan lain sebagainya, Gay et.al (2012: 250). Belum lagi instrumen penelitiannya yang subhanallah, banyak banget di tiap tiap pendekatan.
       Salah satu yang familiar mungkin di telinga kita mengenai instrumen penelitian adalah kuisioner yang menggunakan skala penilaian berupa Skala Likert dimana nilainya "1" sampai "5", yang artinya "sangat tidak setuju" sampai "sangat setuju". Nah banyak loh para ahli penelitian sekarang yang tidak setuju kalau nilainya sampai "5". Mengapa? Karena arti dari nomor "3" itu apa? Misalnya, nomor 1 = sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = ????, 4 = Setuju dan 5 = sangat setuju. Lalu nomor 3 itu apa? Standar? Cukup setuju? atau apa?. Cukup setujunya ini maksudnya apa? Kalau ada yang bisa jawab apa arti dari nomor 3, silakan dijawab pada kolom komentar. Tetapi harus cantumkan referensi yah..
       Dulu waktu tahun 2015, saya menggunakan kuisioner dengan skala penilaian berupa Skala Likert mengenai motivasi belajar Bahasa Inggris. Dan baru baru ini, ternyata jurnal saya dibaca oleh dosen. Dan pada saat ketemu, dikoreksilah saya dengan berdasar pada buku yang direkomendasikan ini. Katanya cukup sampai nomor 4 saja, ialah 1 = sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = Setuju dan 4 = Sangat Setuju.
       Buku ini mengatakan bahwa sebenarnya Skala Likert ternyata hanya bentuk nilai saja awalnya. Bahkan ada loh sampai nilainya 7. Iya, nilai tersebut dicetuskan oleh J . R Lewis. Dan nilai 1 sampai 7 itu tidak ada interpretasi kata katanya mengenai sangat tidak setuju atau apalah. Ngga ada, kalau ada, coba tunjukkan yah bentuknya.
       Badewei, saya ngga mungkin menuliskan review bukunya sebanyak 667 halaman lewat Blog saya ini. Jadi ada baiknya, kamu sebagai pembaca, juga turut membaca buku ini. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris, dan yah ngga memakan banyak Megabytes (Mb) kok untuk disimpan ke dalam memori Handphone kita, ialah 6 Megabytes saja. Buku ini direkomendasikan oleh dosen saya, dan sayang rasanya kalau ngga berbagi. 

    1.  EDUCATIONAL RESEARCH FOR COMPETENCIES: COMPETENCIES FOR ANALYSIS AND APPLICATIONS.
      Edisi kesepuluh, tahun 2012.
      Bahasa Pengantar: Inggris
      Halaman: 667 Halaman
      Ukuran: 6 Megabytes
      Penulis:  L. R. Gay., Geoffrey E. Mills dan Peter Airasian
      Silakan diunduh DISINI 
       Oh iya, kalau Research and Development (R&D) sendiri, itu ngga masuk pembahasan dalam buku ini. Asumsi saya adalah, mungkin R&D butuh buku khusus. Dalam hal ini, kita musti dapat buku yang membahas khusus R&D. Mengapa? Karena kalau saya tonton di Youtube juga, panjang banget pembahasannya. Bahkan ada vidio yang saya unduh, itu memakan 1 jam lebih untuk membahas R&D. Dan yah.. itupun bagi saya singkat pembahasan. Nanti saya cari bukunya. Tapi harus bisa berbahasa Inggris dulu!!! Karena saya pasti carinya dalam bahasa Inggris. Oke? 
       Sekian wassalamualaikum, wr. wb... Semoga bermanfaat, See you on top!!! 
    Oh iya, teman teman yang sempat mendapatkan saya menjadi pemateri KTI, please perbaharui apa yang telah kalian dapat. Karena saya mempengaruhi kalian terhadap hal hal yang sudah kuno. Masa iya kamu ikut terbelakangan juga. Nanti para ukhty ukhty pada menjauh loh. *Oke, nggak lucu* .
    Read More
    TIPS MEMBACA BUKU YANG LEBIH NIKMAT

    TIPS MEMBACA BUKU YANG LEBIH NIKMAT

       Oke, sudah dipastikan kalau orang yang membaca tulisan ini adalah penggiat literasi. :'D Iya benner, karena pada tulisan kali ini, saya bakalan cerita tentang "Tips Membaca Buku Yang Lebih Nikmat". Nikmat yang dimaksud disini ialah "Menghayati", menghayati isi daripada buku yang dibaca. Bahkan bukan cuma masuk ke otak, melainkan ke hati kita juga. Wetss.. B) 
       Tips ini saya peroleh ketika saya menonton film yang berbahasa Asing, terus ada tuh subtitle yang dibaca. Nah, disitulah saya berpikir bahwa "Kok saya membaca subtitle ini bisa lebih fokus yah ketimbang baca buku?". Pasti ada sebab akibatnya nih! Bagaimana tidak? Toh kalaupun kita membaca subtitle-nya juga, mata kita hanya berfokus pada subtitle tersebut ketimbang pada gambar filmnya. Iyakan? Dan akhirnya, saya pun mendapatkan kunci kefokusannya dimana. 
      Jadi, berdasar pada ke-sok-tahu-an saya dulunya, film yang kita tonton (Film berbahasa Asing) dan terdapat subtitle di dalamnya, kita bisa lebih fokus membacanya karena terdapat instrumen instrumen musik yang mampu menstimulus otak kita agar lebih aktif dalam membaca. Dan untuk membuktikan ke-sok-tahu-an ini, saya pun mencobanya dengan membaca buku novel sebagai percobaan pertama, dan saya pun mengunduh beberapa musik instrumen yang dapat diperoleh melalui Om Google. Dan alhasilnya, it works sodara sodara, berhasil! Kita justru bisa lebih fokus dan menikmati isi dari jalan cerita pada novel yang kita baca. Apalagi kalau kisah ceritanya yang menginspirasi, Trust me! Mau buktikan juga? Silakan simak poin poin di bawah ini. 

    ALAT DAN BAHAN
    • Pastikan Kita Mempunyai Buku
       Saran saya sih, kayaknya lebih worth it kalau buku cerita fiksi. Apalagi kalau jalan ceritanya yang inspiratif dan mampu memotivasi kita, baik itu novel, kumpulan cerpen ataupun puisi, dls. Karena buku cerita fiksilah yang saya coba, dan it works! Sedangkan kalau buku buku jenis Ensiklopedia, saya belum tahu apakah berhasil atau tidak dengan tips ini. Tetapi nanti kita sama sama coba setelah membaca tulisan ini. Jadi, pastikan kita mempunyai buku, dan disarankan berupa buku cerita fiksi untuk membuktikannya. Klik pranala berikut untuk mengetahui jenis jenis buku, Kemayoran.
    • Wajib Mempunyai Pelantang
      Sebenarnya ada beberapa jenis yang namanya pelantang. Tetapi pada umumnya, hanya dua yang akan saya sebutkan, ialah Headphone dan Earphone. Lalu apa perbedaan antara Headphone dan Earphone? Untuk melihat perbedaannya, lihat gambar di bawah ini,
      Bagaimana dengan kemangkusannya? Untuk kemangkusannya sendiri, saya justru lebih suka menggunakan Headphone ketimbang Earphone. Mengapa? Karena penggunaan Earphone lebih berpotensi terhadap suara yang masuk dari luar. Sedangkan Headphone justru sebaliknya karena terdapat bantalan yang mampu menutupi seluruh permukaan telinga sehingga suara dari luar pun tidak akan terdengar oleh kita. Jadi kita lebih fokus membaca pada saat menggunakan Headphone ketimbang Earphone
    • Wajib Mempunyai Teknologi Modern Masa Kini
     Sudah dipastikan kalau orang yang membaca tulisan ini, pasti mempunyai alat teknologi modern berupa Handphone/Smartphone ataupun Laptop/Komputer. Nah loh? Iya, trus yang ada di depan kamu sekarang apa? Itu punya kamu-kan sayam (ukhty)? :3 Nah kita manfaatkan teknologi tersebut di luar dari fungsi yang sesungguhnya, ialah sebagai penunjang untuk fokus terhadap bahan literasi.

     EKSEKUSI 
    Nah, setelah Alat dan Bahan telah tersedia, maka tahap selanjutnya adalah eksekusi, berikut tahapannya;
    • Wajib Unduh Instrumen Musik
       Pada eksekusi pertama, kita harus mencari musik instrumen dengan format Mp3 (tanpa suara, ialah hanya alunan musik semata). Saran saya, carilah durasi yang paling panjang, bahkan berjam jam lamanya. Banyak kok tersedia di Om Google, cari saja dengan kata kunci "Musik Instrumen Pembangkit Semangat Belajar". Setelah ditemukan, maka unduh musik tersebut. Lalu simpan di dalam teknologi modern kita seperti yang telah disebutkan pada poin "Wajib Mempunyai Teknologi Modern Masa Kini".
    PERHATIAN: Jangan sekali sekali menggunakan musik ber-genre DJ, R&D ataupun musik musik nge-Beat lainnya. Karena hal itu akan memancing kefokusan kita. Yang tadinya mau membaca, eh malah ikutan nyanyi atau bahkan joget.

      Saran saya untuk lebih mudahnya, kita salin musik tersebut ke dalam memori Hanphone/Smartphone agar bisa dibawah kemana mana. Jadi, pada saat ingin membaca buku fiksi di luar ruangan, maka akan lebih mudah mendengarkan musik tersebut sambil membaca. Dengan catatan, baik di luar maupun di dalam ruangan, wajib menggunakan pelantang pada saat mendengar musik instrumennya. Terlebih lagi kita membacanya di ruangan yang terbuka, maka berbagai inspirasi pun akan terus mengalir.
    • Tidak Wajib (Sunnah)
       Poin ini saya katakan tidak wajib (sunnah) karena ini tergantung kepercayaan diri saja. Mengapa demikian? Karena jujur saja, saya lebih suka membaca di luar ruangan ketimbang di dalam ruangan. Nah, sempat kamu dan saya sama, lebih suka membaca dengan ruangan yang terbuka. Maka, saran saya adalah buku yang kita baca itu musti privasi kita (ngga boleh ada yang tahu bahwa buku apa yang sedang kita baca). Saya pribadi tidak cukup percaya diri untuk menampilkan buku buku kesukaan saya. Maka saya pun membungkus cover-nya dengan bungkusan yang mampu menutup judul dan gambar pada cover buku tersebut. Jadi dimanapun kita berada, kalau kita suntuk dan gak tahu mau buat apa?!? Yah udah, pergi saja ke suatu tempat yang tenang dan baca bukunya sambil mendengarkan musik instrumennya. Tenang saja, mereka ngga tahu kok mengenai buku apa yang sedang kita baca. :)
      Baiklah, itulah sedikit tips yang mungkin bisa saya amalkan hari ini, semoga tulisan di atas cukup memberikan manfaat kepada kita semua. Apabila ada yang kurang jelas, silakan berkomentar di bawah postingan ini. Terima kasih, wassalamualaikum wr. wb.., See you on Top!!! 
    Untuk teman teman yang sementara mencari bahan pustaka sambil mau mempelajari bahasa Asing, silakan menuju ke laman "LIBRARY" pada menu utama di atas. Ciao!!!
    Read More