CARA BELAJAR BAHASA ASING UNTUK ORANG YANG SUPER SIBUK

CARA BELAJAR BAHASA ASING UNTUK ORANG YANG SUPER SIBUK

   Assalamualaikum wr. wb, pada tulisan kali ini penulis akan berbagi tentang cara belajar bahasa asing bagi orang-orang yang memiliki jadwal kesibukan yang padat; Baik para pelajar yang aktif organisasi, maupun para pekerja yang telah profesional. Tanpa banyak basa basi, langsung saja simak cara belajar dibawah ini.

1. Buka situs Youtube

   Hal yang pertama dilakukan adalah kita harus membuka jendela situs Youtube terlebih dahulu. Kemudian, cari video dengan judul "Learning Spanish while Sleeping" pada kolom pencaharian Youtube.
   Sebenarnya, judul "learning Spanish while Sleeping" ini hanyalah bentuk contoh semata yang penulis berikan. Dan teman-teman bisa mengganti nama bahasanya sesuai dengan bahasa yang sedang atau ingin kita pelajari. Misalnya "Learning Deutch/French/Japan/Hindi/Dutch/etc while sleeping". Tergantung bahasa apa yang sedang/ingin teman-teman pelajari. 
   Berdasarkan dari redaksi kata yang kita gunakan tadi, ialah bahasa Inggris pada saat mencari. Maka video yang muncul pun akan berbahasa Inggris sebagai bentuk terjemahan dari bahasa asing lain yang sedang kita pelajari. Itulah mengapa teman-teman musti bisa paham terlebih dahulu mengenai bahasa Inggris. Hal ini sangat memudahkan teman-teman untuk dapat mengartikannya ke dalam bahasa Indonesia. Dan ketika hasil pencaharian telah muncul, maka silakan dipilih videonya sesuai dengan selera kita. 
   Saran penulis, pilihlah video yang durasinya paling lama. Mengapa demikian? Karena-kan, cara belajar ini digunakan hanya pada saat lagi tidur saja. Dan belum digunakan pada aktivitas lainnya yang bersifat menganggu kegiatan lain. Jadi, pilihlah video yang durasinya paling lama. 

2. Download/Unduh Video

   Bagi yang belum mempunyai IDM (Internet Download Manager) di PC-nya, maka Savefrom bisa menjadi solusi yang paling mudah untuk kita mengunduh video dari Youtube. Penggunaan Savefrom tidak terlalu ribet; cukup copy link URL video, kemudian paste ke situs Savefrom pada kolom yang telah disediakan, lalu klik unduh/download dan tunggu hingga proses downloadnya selesai. Done! Cara ini hanya berlaku ketika teman-teman menggunakan laptop atau komputer. 


   Sedangkan bagi yang pengguna smartphone, baik Android maupun Iphone, maka silakan diunduh videonya melalui Youtube sendiri untuk ditonton secara offline. Lebih mudah lagi. Namun, penulis sendiri lebih menyukai lewat PC untuk mengunduhnya. 

3. Eksekusi

   Nah, untuk cara mengeksekusinya sendiri, penulis akan berikan contohnya melalui video yang sesuai dengan apa yang penulis lakukan setiap hari. Ini bukan berarti penulis sudah master atau menguasai betul bahasa asing yah, kita sama-sama belajar dan berbagi ilmu terkait cara belajar bahasa asing. Dan melalui tulisan serta video ini, maka beginilah cara penulis berbagi ke teman-teman terkait cara belajar bahasa Asing di waktu kesibukan yang padat sebagai mahasiswa aktif akademik maupun berorganisasi. 
   Baiklah langsung saja, berikut link videonya, Klik disini atau Disini


  Sebagai penutup, apabila ada yang perlu ditanyakan, silakan berkomentar melalui videonya. :) Dan ditunggu subscribenya juga karena satu subscribe, sama dengan satu sumber penyemangat buat penulis untuk tetap bermanfaat terhadap sesama. Terima kasih.. Salam hormat dan salam literasi. 
Read More
GOOD BYE RULLINGUIST(DOT)WIN :'(

GOOD BYE RULLINGUIST(DOT)WIN :'(

   For my online house, mungkin tahun ini bakalan menjadi tahun terakhir menggunakan domain ".win" (dibaca "dot win"). Tujuan awalnya menggunakan "dot win" karena secara harfiah dalam bahasa Indonesia artinya "menang". Iya, menang! Rullinguist(dot)win = Has"RUL"lah, seorang ahli ilmu bahasa. Menang! Asik nggak tuh artinya?
Percayalah! Sebuah nama adalah doa dari setiap yang mengucapkannya. aamiin aamiin yah Allah

   Tahun ini, iya 2018, tagihan bayaran domain "dot win" begitu tinggi, jadi ada baiknya mungkin saya lebih berpikir realistis untuk menabung saja duitnya. Terus beralih ke domain yang lebih murah; "dot com" atau "dot id" *mungkin*. Apalagi list equipments Youtube saya juga perlu dipenuhi untuk menambah kualitas video, betul-betul harus menabunglah. Namun saya masih bingung dan belum rela sebenarnya untuk mengganti domain :D. Ini bukan berarti saya tidak profesional sebagai seorang blogger dengan tidak membayar tagihan domain. Cuman tagihan tahun ini keterlaluan meningkatnya hingga empat kali lipat dari "dot com" atau "dot id" dan lima kali lipat dari tagihan tahun lalu. Yang tadinya cuma bayar 100 ribu, sekarang hampir 500 ribu loh untuk satu tahun. Kan keterlaluan gila perusahaannya! Asumsi saya sih, mungkin blog saya sudah muncul iklan dan terindeksasi oleh google, makanya si perusahaan memanfaatkan peluang ini untuk langsung menaikkan tagihannya berkali-kali lipat. 
    Nah itu yang membuat saya tidak rela mengganti domain "dot win" sebenarnya. Karena blognya sudah terindeksasi oleh google, sudah dapat kerjasama iklan, dan hampir semua tulisan-tulisan saya juga sudah diindeksasi oleh google. 
   Sebagai bukti, coba aja searching di Google dengan salah satu judul tulisan di blog ini, in syaa Allah muncul di daftar pencaharian Google. Nah itu berarti, sudah diindeksasi oleh Google, baik Blognya sendiri maupun tulisan-tulisannya. Lanjut!
   Sedangkan traffic pengunjung setiap hari bisa mencapai 100 - 500 pengunjung. Bahkan kalau tulisan saya mengikuti topik-topik trending, bisa mencapai ribuan pengunjung. Ditambah lagi blog ini pernah masuk nominasi IWA (Indonesia Website Awards) 2017 sebagai personal website dengan nama domain "dot win" dan diundang ke Jakarta. Sayang sekalikan? Dan kalau harus diganti domainnya, memulai lagi dari awal; Pengajuan indeksasi google, kerjasama iklan, indeksasi tulisan yang mengakibatkan jumlah traffic pengunjung dan lain sebagainya. Repotnya bukan main dan kadang ditolak, yah Alloh. Apalagi kerjasama iklan itu, sudah berapa kali saya ngalamin penolakan dan butuh perjuangan untuk mendapatkannya. 
  Mungkin kalau ada teman-teman disini yang sudah lama berteman dengan saya di Facebook, dan pernah mendapatkan postingan status saya yang "kegirangan parah" telah disetujui oleh Google Adsense untuk kerjasama iklan, nah itu sebelumnya sering dapat penolakan saya. Makanya saya "kegirangan najis" ketika dapat email persetujuan. Siapa sih yang nggak senang ketika mendapatkan kabar yang menyenangkan setelah melalui beberapa ujian? Cuman kesenangan saya terkesan lebay sih. Lanjut curhatnya! Kekhawatiran saya, kalau saya mengganti tahun ini domainnya, maka prediksinya bakalan tahun depan baru bisa sempurna lagi (ibaratnya) seperti dahulu kala. Itupun kalau rejekinya berpihak kepada saya. Dan syukur-syukur kalau masih ada event IWA 2018 atau 2019. 
  BTW, batas akhir pembayaran tagihan "dot win" hingga bulan September 2018. Dan kita liat saja nanti, apakah saya akan beralih ke domain baru atau tetap bertahan pada domain yang sekarang. Waktu yang akan menjawab! Tapi, untuk berjaga-jaga, saya coba mau meresearch terlebih dahulu, "Kalian lebih memilih apa? Domain "dot com" atau dot id?" Mohon dijawab yah di kolom komentar. Sedangkan untuk nama "Rullinguist" sendiri, nggak bakalan kok saya ganti. In syaa Allah akan bertahan dengan nama tersebut, karna merumuskan nama itu butuh proses yang lama. Dan menurut saya, Rullinguist udah pas banget namanya yang menyertakan nama saya tanpa melupakan passion saya juga. 
   Udah, itu aja sih curhat saya kali ini, maaf yah kalau tulisan ini nggak ada faedah-faedahnya ketimbang tulisan saya sebelumnya. Yah kali, saya mah juga manusia biasa yang butuh hal-hal santai untuk ditulis, dan tidak untuk serius mulu. Mungkin next postingan bakalan lebih bermanfaat, so sampai jumpa di next postingan dara/daeng :D 
   Tetap support yah teman-teman, karena satu dukungan sama dengan satu penyemangat buat saya untuk tetap berbagi ilmu dengan kalian melalui blog saya yang sederhana ini. 

Read More
INOVASI MEMPRAKTEKKAN BAHASA TANPA PENUTUR ASLI

INOVASI MEMPRAKTEKKAN BAHASA TANPA PENUTUR ASLI

   Assalamualaikum wr. wb, pada tulisan kali ini, penulis akan berbagi tips mengenai cara atau metode mempraktekkan bahasa tanpa seorang penutur asli secara langsung. Setelah penulis searching di google, memang belum ada yang melakukan metode ini untuk mempraktekkan bahasa secara otodidak. Jadi penulis pikir, metode ini merupakan inovasi yang penulis temukan dalam membantu para aktivis bahasa untuk mempraktekkan bahasanya. Apalagi bagi orang-orang yang mengalami kesulitan bertemu dengan seorang penutur asli atau bahkan sesama para aktivis bahasa. Hmm.. baiklah, tanpa banyak basa basi, langsung saja simak tips-tips berikut ini

1. Siapkan Boneka

   Jumlah bonekannya minimal satu buah boneka saja. Namun, berhubung penulis merupakan aktivis Taman Baca Masyarakat (TBM) atau penggiat literasi yang berfokus pada anak-anak. Jadi disini penulis telah memiliki enam buah boneka dimana penulis menggunakannya sebagai metode pengajaran kepada anak-anak. Dan sekalian saja boneka-boneka tersebut penulis jadikan sebagai teman untuk mempraktekkan bahasa-bahasa asing yang sedang penulis pelajari. Maklum, penulis selalu mengeluh kesusahan dalam menemukan penutur asli. 
   Jangankan penutur asli, orang-orang sesama aktivis bahasa pun susah ditemukan di sekitaran daerah penulis (Makassar-Gowa). Dan penulis yakin, diantara teman-teman aktivis bahasa lain, ada juga yang keluhannya sama. Iyakan? Ada sih penutur asli dan bahkan komunitasnya, cuman lewat sosial media, WA (What's App) group untuk tiap bahasa. Namun cenderung fokus ke pemahaman tulisan saja. Jadi, jujur saja penulis hanya lancar berkomunikasi melalui tulisan, baik membaca maupun menulis, karena aktifnya memang di situ-situ saja sebelumnya. Namun sekarang, penulis mulai melangkahkan kaki satu tangga untuk aktif berbicara melalui pelatihan bersama boneka-boneka. Mau liat bonekanya? Ini bonekanya,
Keluarga Boneka Tangan
   Boneka-bonekanya dibuat sendiri dengan tidak melupakan kearifan lokal dari salah satu budaya Indonesia (Bugis/Makassar). Namun, kalau emang teman-teman mempunyai uang lebih, maka belilah yang jadinya saja. Banyak banget yang jual di online shop dengan kata kunci "Boneka Tangan". Penulis aja pengen beli, cuman nanti kalau punya duit lebih. Penulis pengen beli yang emang kualitasnya udah bagus dan berukuran 75 cm, jadi pemakaiannya lama dan enak digunakan. Namun harga menyesuaikan juga dengan kualitas dan ukuran :D Makanya penulis nabung dulu.. *Maaf curcol*. Nah setelah tersedia bonekanya, maka lanjut ke tips kedua.

2. Naskah Percakapan

   Selanjutnya, teman-teman buat naskah percakapannya dengan menggunakan modal kosakata-kosakata yang ada di dalam pikiran (Kosakata yang udah dipelajari). Penulis saranin bagi yang kasusnya sama dengan penulis (cenderung fokus pada komunikasi tulisan), maka gunakan kosakata-kosakata sebelumnya yang emang udah diketahui terlebih dahulu untuk memulai percakapan oral. Boleh menggunakan kosakata-kosakata baru, tetapi sebagai redaksi kata pada naskah percakapan si bonekannya saja. Namun karena suara dari boneka tersebut merupakan suara kita juga. Jadi, diminimalkan saja kosakata barunya sampai akhirnya emang pasif berbicara menggunakan semua kosakata-kosakata yang udah lama diketahui. Nanti pada saat pembuatan naskah selanjutnya, barulah menggunakan kosakata-kosakata yang baru dipelajari untuk mempraktekkannya antara kita dan bonekanya.

   Nah disini, penulis sudah mempunyai naskah yang penulis susun sendiri dengan modal kosakata-kosakata yang udah kebelet banget ingin keluar melalui suara. Kalau secara tata bahasa sendiri, in syaa Allah cocoklah. Namun untuk sebagian bahasa, penulis tidak terlalu peduli untuk tata bahasanya, yang jelas nih kosakata emang keluar dari mulut penulis. Udah itu aja! Kecuali untuk bahasa-bahasa yang emang pengen penulis berniat mengikuti tes-tesnya. Yah udah, penulis emang pikirkan matang-matang untuk tata bahasanya juga. Berikut naskah percakapan yang telah penulis susun,


3. Mulai Berdialog

   Nah, setelah naskah percakapan selesai. Yah silakan teman-teman mengeksekusi atau mempraktekkannya bersama dengan bonekanya. Kalau penulis sendiri, penulis buatkan video dialognya bersama dengan boneka agar terkesan lebih nyata trus bisa praktek pendengaran juga sekalian. Apalagi, penulis tidak terlihat seperti orang gila yang bercakap sendiri apabila melalui video. Berikut video hasilnya,


   Mungkin teman-teman berpikir bahwa metode ini terlalu ribet. Iya memang benar, penulis akui bahwa inovasi ini emang terlalu ribet. Cuman  menurut penulis, kita sebagai aktivis bahasa juga musti mengikuti zaman yang makin hari makin canggih. Apalagi penulis juga berasal dari keluarga dimana kepercayaannya terhadap spiritual mitos itu sangat kuat. Ialah penulis dilarang bercakap sendiri melalui cermin. Anehkan? Dan penulis harus hargai larangan tersebut. 
BTW, kalau videonya ngga bisa dimainkan, silakan berkunjung kesini, RULLINGUIST atau Klik disini
   In syaa Allah tersedia video-video yang mungkin bisa menginspirasi ataupun berbagi tips pembelajaran bahasa. Dan penulis sangat terbuka bagi sahabat baru yang mungkin kesulitan menemukan sesama aktivis bahasa untuk mempertahankan motivasi belajarnya. Iya, motivasi ekstrinsik itu juga berperan penting dengan memiliki teman-teman sesama aktivis bahasa. Hmm, sebagai penutup, berikut hadist dimana nabi Muhammad menyarankan agar kita semua (umat muslim) mempelajari bahasa-bahasa asing sebagai tombak dalam menjaga diri.

عَنْ خَارِجَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتِ كِتَابِ يَهُودَ. قَالَ  إِنِّى وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابٍ ». قَالَ فَمَا مَرَّ بِى نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

   Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari ayahnya; Zaid bin Tsabit, ia berkata: “Rasulullah ShallAllahu alaihi wa sallam menyuruhku untuk mempelajari -untuk nya- kalimat-kalimat (bahasa asing) dari buku (suratnya) orang Yahudi, Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak merasa aman dari (pengkhianatan) yahudi atas suratku.” Maka tidak sampai setengah bulan aku sudah mampu menguasai bahasa mereka. Ketika aku sudah menguasainya, maka jika-nya (Muhammad) menulis surat untuk yahudi maka aku yang menuliskan untuknya. Dan ketika mereka menulis surat untuk nya (Muhammad), maka aku yang membacakannya kepada-nya.” Abu Isa mengatakan hadits ini hasan shahih. [HR. At Tirmidzi no. 2933). 
Read More
PANDANGAN ILMIAH TERKAIT BERITA TRENDING DI KAMPUS HIJAU SAAT INI

PANDANGAN ILMIAH TERKAIT BERITA TRENDING DI KAMPUS HIJAU SAAT INI

   Argumentasi adalah aktivitas kolaborasi antara komunikasi verbal dan non-verbal yang paling sering digunakan dalam bahasa sehari hari. Dalam sebuah argumentasi, orang orang cenderung menggunakan kata-kata dan kalimat untuk berdebat, menyatakan atau menolak, dll. Dan pada akhirnya, tujuan dari argumentasi adalah untuk membenarkan pendirian seseorang atau untuk membantah pendapat orang lain. (Van Eemeren et al, 1996). 


   Dan inilah yang sedang terjadi di dalam kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar yang digegerkan dengan sebuah argumentasi dari salah satu dosen dengan menyatakan, "Kalau nda ada uangnya, nda usah kuliah", (sumber 1 , 2) Kemudian terjadi perdebatan antara dosen tersebut dengan seorang mahasiswa yang mengungkapkan argumentasinya melalui sebuah tulisan yang berjudul "Kritik dan Klarifikasi atas Klarifikasi

   Melihat kasus perdebatan antara mahasiswa dan dosen, penulis merasa terpanggil untuk menganalisis argumentasi dan menuliskannya melalui situs pribadi ini. Tetapi tulisan ini tidak bertujuan untuk menyudutkan salah satu di antara mereka. Melainkan untuk memetik pelajaran semata terkait argumen argumen yang menjadi perdebatan. Dan semoga saja ada solusi yang bisa penulis tawarkan di akhir penulisan ini aamiin aamiin.   

   Dalam ilmu bahasa (linguistik), argumentasi adalah sebuah pendapat yang diungkapkan (premis, dengan simbol "p") dan berakhir pada akibat dari sebuah premis dengan simbol "q". Berdasarkan argumentasi yang diungkapkan oleh bapak dosen tersebut, maka dapat dikategorikan pada aturan inferensi dengan rumus sebagai berikut,

p → q
¬q        
∴ ¬p 

Keterangan:  
p → q = positive premise
¬q       = negative premise
→       = Imply 
¬p     = negative conclusion

   Berdasarkan argumentasi beliau, "Kalau nda ada uangnya, nda usah kuliah". Maka argumen tersebut menggunakan bahasa informal, dan wajib diterjemahkan dengan teknik equivalence ke dalam bahasa yang lebih formal untuk menganalisis apakah argumentasi tersebut sesuai dengan rumus di atas.
Equivalence translation technique: "Jika dia tidak mempunyai uang, tidak usah kuliah".
Sepakat yah untuk bahasa yang lebih formalnya? Nah apabila sepakat, mari kita lanjut!
   Terdapat kata negatif, "tidak" pada kalimat argumentasinya yang disimbolkan dengan (¬). Dan apabila kata negative diubah menjadi positive, maka dapat dibangun sebuah kalimat positif berdasarkan rumus di atas. 
p → q = Jika anda mempunyai uang, maka usah/perlu kuliah. 
Namun karena terdapat kata "tidak", maka;
¬q (negative premise) = tidak usah kuliah 
Jadi konsekuensinya terjadi pada ¬p sebagai negative conclusion 
¬p = Dia tidak mempunyai uang. 
   Secara aturan inferensial dalam ilmu bahasa, argumentasi dikatakan valid ketika sebuah kesimpulan (pernyataan akhir) mengikuti pernyataan sebelumnya (premis) yang berdasar pada tautology dengan nama Modus Tollens pada aturan rumus berikut,
(¬q ∧ (p → q)) → ¬p
Keterangan:
¬q       = negative premise
∧         And
p → q = positive premise
→       = Imply 
¬p       = negative premise
(Dan tidak usah kuliah (Jika dia mempunyai uang, maka usah/perlu kuliah)) Jika dia tidak mempunyai uang
   Maka argumentasi dari beliau tersebut dinilai valid yang berdasar pada aturan inferensi dengan nama Modus Tollens dalam berargumentasi. 
Jika dia tidak mempunyai uang, tidak usah kuliah, sama dengan Tidak usah kuliah jika dia tidak mempunyai uang. Sebaliknya, jika dia mempunyai uang, maka perlu kuliah. 
Untuk memahami aturan inferensial, silakan klik link berikut, Modus Tollens atau Di sini.

   Nah, sekarang kita beralih ke perdebatan argumentasi. Penulis menggunakan model teori  "Beyond Reasonable Doubt" yang digunakan oleh John Woods dalam mencari tahu secara logis mengenai keputusan dasar pada setiap klarifikasi masalah yang melekat di dalam perdebatan argumentasi (in Feteris, 2008:1-5), klik disini.
   Dimulai dari sebuah argument yang dilontarkan oleh bapak yang tersangkut, 
Informal : “Kalau nda ada uangnya, nda usah kuliah”
Formal    : "Jika dia tidak mempunyai uang, tidak usah kuliah"
   Walaupun secara aturan inferensial dalam berargumentasi itu valid, tetapi penulis juga sebenarnya merasa prihatin ketika ada orang yang berargumen seperti itu. Hal ini dapat dinilai melalui penggunaan kata "nda" ataupun "tidak" yang telah mencerminkan kepribadiannya dalam berargumentasi. Nah, mari kita coba merubah sedikit redaksi katanya dengan mengganti kata "tidak" atau "nda" menjadi kata "belum". Mungkin akan terdengar sedikit bijaksana dalam berargumentasi.
Jika dia belum mempunyai uang, belum usah/perlu kuliah. 
Belum perlu kuliah jika dia belum mempunyai uang. 
  See? Mungkin kalimat di atas terdengar sedikit lebih bijaksana dan mengurangi tingkat kearogansian seseorang ketimbang menggunakan kata "tidak". Setuju tak?
   Nah sekarang kita tinjau sebab-akibat bagaimana argumentasi itu bisa dilontarkan oleh bapak yang bersangkutan. Apakah klarifikasinya jelas secara ilmiah atau justru sebaliknya? Berdasarkan hasil klarifikasi dari media lokal kampus UINAM, berikut penyebabnya;
  “Saya cuman jengkel dengan cara yang tidak elok seperti itu sehingga keluarlah kata-kata itu. Dengan gaya pakaian Dema yang tidak sopan (memakai sarung dan sendal jepit), kan ada cara yang sopan dan santun” jelasnya. (Irwan: 2018), klik di sini
  Lalu hasil klarifikasi di atas dikiritik oleh salah satu mahasiswa UINAM melalui tulisannya yang berjudul “Kritik dan Klarifikasi atas Klarifikasi”, klik di sini. Poin hasil kritikannya yang bisa penulis kutip dan berhubungan dengan klarifikasi bapak yang tersangkut ialah,
“Tentu tidak ada hubungannya antara pakaian rapi dan perilaku baik seseorang. Koruptor yang nyaris semuanya berpakaian rapi, meskipun tidak semua yang berpakaian rapi adalah koruptor”, jelasnya. 
   Penulis memandang kedua argumentasi di atas itu sudah sesuai, namun belum sepenuhnya tepat pada kritikan atas klarifikasi. Ibaratnya seperti ini, kritikan tersebut belum tepat menjebol titik panahannya, namun sudah sesuai lokasinya untuk memanah *Penulis bukannya sok pintar yah, tetapi ini pandangan penulis*.  Maksudnya apa? Kalau kita perhatikan dengan seksama, klarifikasi dari bapaknya sendiri itu jelas mengungkapkan penyebabnya dalam melontarkan sebuah argumen “Kalau nda ada uangnya, nda usah kuliah”. Ialah beliau merasa jengkel yang disebabkan oleh cara berpakaian mahasiswa ketika menghadap ke beliau yang dinilai tidak sopan.

   Kasus ini sama halnya dengan hasil penelitian terkait “Enclothed Cognition” yang diteliti oleh Adam dan Galsinky pada tahun 2012, ialah "the power of clothing"  dimana ada dua elemen yang dapat mempengaruhi orang terhadap si pemakai dress code; (1) Simbolis, (2) Lingkungan fisik. Nah, secara simbolik sendiri adalah pakaian yang mencerminkan status sosial kita, misalnya seorang siswa, mahasiswa, pemimpin, pekerja profesional di bidangnya dan lain sebagainya yang mampu mempengaruhi kepercayaan orang terhadap kita. Sedangkan secara fisik merupakan penyesuaian dalam penggunaan dress code sehingga mampu mempengaruhi persepsi orang di lingkungan sekitar. Persepsi yang dimaksud adalah bagaimana cara orang berkomunikasi ke kita, berperilaku ke kita, dan cara orang memandang kita yang dapat terpengaruh dari cara kita berpakaian. Lebih jauh lagi, penelitian yang dilakukan bukan hanya berdasar pada study literature semata, melainkan perlakuan eksperimen di lapangan secara langsung. Jadi, kevalidan datanya dapat dibenarkan dan dapat dipercaya, yakni bukan lagi sebuah hipotesis semata. Jurnalnya pun telah terpublikasi resmi di Elsevier. Klik disini untuk mendapatkan jurnalnya, atau tonton video singkatnya.
Kalau tidak bisa terputar videonya, Klik disini.    

   Jadi, klarifikasi penyabab argumentasi yang dilontarkan oleh beliau itu cukup kuat berdasarkan pandangan ilmiah secara psikologi. Lebih jauh lagi, penulis memberikan dua contoh foto terkait Enclothed Cognition, yakni The power of clothing. Mohon ketika teman-teman melihat foto dibawah ini agar memperhatikan dengan seksama dress code yang ia gunakan, jangan sampai teman-teman salfok (Salah fokus). Dan bagaimana kesan pertama anda menilai orang pada kedua foto di bawah ini;
  1. Foto pertama
  2. Foto Kedua
   Penulis yakin bahwa persepsi kita melihat kedua foto di atas kemungkinan besar akan berbeda, dan menganggap bahwa foto pertama terkesan lebih positif ketimbang yang kedua. Padahal orangnya sama, hanya cara berpakaiannya saja yang berbeda. Nah itulah the power of clothing, bahkan penambahan aksesoris pun akan mempengaruhi persepsi orang, misalnya penambahan kacamata, dasi, dls. Inilah yang telah terjadi pada kasus yang menimpa salah seorang mahasiswa dengan jabatannya yang terbilang bagus, yakni seorang DEMA (Dewan Mahasiswa).

   Sedangkan mahasiswa yang mengritiknya lebih mengarah ke sifat pribadi seseorang yang menggunakan pakaian tersebut sehingga tidak ada indikator penilian yang bergantung pada cara kita berpakaian. Itulah mengapa, tidak semua koruptor itu berpakaian rapi, bisa saja berpakaian casual atau bahkan berpakaian muslim/muslimah. Berdasarkan Enclothed Cognition, dengan mereka berpakaian seperti itu mampu mempengaruhi persepsi masyarakat sekitar (Adam dan Galsinky, 2012). Dalam hal ini, para koruptor dapat bersembunyi melalui dress code yang mereka kenakan. Siapa yang tahu kebaikan/keburukan di dalam hati seseorang? Sampai saat ini belum ada indikator penilaiannya untuk mengetahui isi hati seseorang.

   Namun yang harus diakui memang bahwa letak kesalahan terbesarnya dari argumentasi bapak tersebut. Nah ini yang sangat disayangkan, ialah cara bapak merespon para aktivis pendidikan. Padahal bapak ini salah satu aktivis pendidikan juga yang bahkan bekerja di instansi pendidikan, terlebih universitas. Penulis yakin sih, dengan jabatan yang dimilikinya, pasti membutuhkan proses yang panjang dan lama untuk menggapainya. Namun masa iya dengan proses yang sepanjang itu, tetapi kecerdasan emosionalnya (EQ) masih kurang dalam mendidik? Iya, dibuktikan dengan cara bapak merespon sehingga mampu melontarkan dan belum bisa mengontrol argumentasi seperti itu. Ini yang menjadi tanda tanya besar penulis. Seyogyanya dengan pengalaman mendidik sepanjang dan selama itu, harus mampu mengontrol kata kata yang dapat mencoreng nama baik seorang pendidik, terlebih nama universitas yang membawa nama banyak orang.


    Lebih jauh lagi, penulis belajar mengenai hubungan antara ilmu bahasa dan psikologi, mahasiswa Bahasa dan Sastra menyebutnya dengan istilah "Psikolinguistik". Nah yang menjadi kekhawatiran besar kami sebagai pemerhati bahasa adalah apa yang dilontarkan oleh beliau dengan menggunakan bahasa verbal mampu mempengaruhi psikologi seseorang, utamanya yang memang berekonomi rendah, kan berbahaya. Dikhawatirkan mereka merasa takut untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Apalagi sekarang beritanya sudah tersebar dimana-mana melalui media sosial. Dan itu berarti, yang tadinya cuma secara oral dalam berargumentasi, kini menjadi written yang justru lebih berpotensi besar terjadi kesalahpahaman. Dengan kata lain, kita tidak bisa menentukan bagaimana intonasi dan ekspresi beliau ketika berargumentasi melalui bahasa tulisan (written). Nah ini menyangkut psikologi seseorang yang membacanya.
  By the way, disini penulis tidak menyalahkan siapa siapa. Penulis hanya mengambil pelajaran dari kasus ini semata bahwa Bahasa itu sakral. Jangankan dari segi ekspresi, tata bahasanya pun mampu mempengaruhi kita. 
   Maafkan saya yah pak sebelumnya, mungkin penulis sedikit lancang. Tetapi yah, ini menyangkut nama baik universitas soalnya yang membawa nama kami juga secara pribadi. Nah, untuk ide solusinya sendiri, mungkin yang pertama ke beliaunya dulu yang berargumentasi. Apabila bapak berinisiatif untuk meminta maaf atas argumentasi bapak, penulis lebih menyarankan agar bapak terlebih dahulu melakukan permintaan maaf melalui video dan jangan melalui tulisan dulu. Sekarangkan telah tersedia "Voice Alauddin" sebagai Youtube channel yang bekerjasama dengan UIN Alauddin Makassar. Nah ada baiknya bapak mungkin mengundang penanggung jawab "Voice Alauddin" untuk membantu bapak meminta maaf secara oral melalui video dan diunggah ke media sosial (Youtube Channel). Hal ini lebih berpotensi untuk tidak terjadi kesalahpahaman karena ekspresi dan intonasi suara bapak dapat diperhatikan oleh banyak netizen.

    Ekspresi wajah dan intonasi suara yang sopan hanya bisa dilihat melalui video dan bukan melalui bahasa tulisan. Jadi dengan cara shooting video dan diunggah ke Voice Alauddin misalnya, akan lebih berpotensi untuk mengubah tanggapan negatif netizen ke arah yang lebih positif bahwa ternyata bapak orangnya bijaksana dan bertanggung jawab. Dan secara tidak langsung pun akan mengembalikkan citra nama baik kampus kita (walaupun mungkin belum sepenuhnya). Barulah masuk ke tulisan untuk lebih memperkuat misalnya :). Kalaupun bapak berniat meminta maaf kepada mahasiswa yang bersangkutan langsung, penulis pikir hal tersebut belum mampu merubah citra nama baik kampus karena argumentasi bapak sudah tersebar melalui sosial media yang dibaca oleh banyak orang, apalagi terkait pendidikan. Bahkan beritanya sudah tersebar di group Whatsapp penulis dimana anggota-anggotanya berasal dari universitas yang berbeda. Maaf apabila penulis terkesan mengajari yah pak, penulis hanya ingin berbagi demi nama baik kampus kita. Dan untuk menghindari kejadian yang serupa lagi yang diakibatkan oleh dress code semata, mungkin foto ini bisa jadi ide pertimbangan.
Aturan Dress Code kampus FISIP Universitas Indonesia
Sumber: Google
      Baiklah, karena tulisan ini bukan jurnal, jadi tautan atau link referensinya pun, penulis sertakan saja di atas untuk diklik langsung. Akhir kata, apabila ada kesalahan bahasa dalam penulisan ini, mohon dikoreksi. Semoga kita semua dapat menjaga tutur kata kita dalam berbahasa, dan dapat menyesuaikan dress code yang kita gunakan karena rapi itu tidak harus kaya teman teman. Sekian wassalamualaikum wr. wb..

Read More
LOMBA KARYA TULIS ILMIAH (METODE RESEARCH AND DEVELOPMENT)

LOMBA KARYA TULIS ILMIAH (METODE RESEARCH AND DEVELOPMENT)

   Akhir akhir ini, penulis jarang memperbaharui rumah curhat ini lagi. Bahkan kemungkinan besar, penulis hanya bisa memproduksi tulisan dalam waktu sekali-sebulan. Jujur saja, penulis hanya menyempatkan untuk menulis dan memposting tulisan ini ditengah-tengah waktu istirahat perkuliahan (bimbingan). Nah pada tulisan kali ini, penulis akan mereview atau meninjau buku Professor Sugiyono terkait Research and Development (R&D) yang dipublikasikan pada tahun 2013. Mengapa harus buku professor Sugiyono? Alasan sederhananya adalah karena buku buku lain yang membahasa serupa, sulit untuk ditemukan! Apalagi yang dalam bahasa asing. Ada sih yang penulis dapatkan, cuman bukunya lebih membahas secara khusus ke rana pendidikan. Sedangkan buku Prof. Sugiyono ini, membahas Research and Development secara umum yang dibagi ke dalam beberapa Sub-bab; Pendidikan, Bahasa, Sosial & Budaya, Kesehatan, dan Teknologi. Walaupun sumbernya menggunakan bahasa Indonesia dimana professor Sugiyono sendiri meninjau buku-buku yang berbahasa Inggris. Tetapi yah, tidak apa apa! Paling tidak, sudah menemukan sumber dimana penulisnya adalah seorang professor (bisa dipercaya).


   Sebelum masuk inti, penulis menyarankan agar teman teman telah memahami secara jelas, bagaimana itu metode Kuantitatif (positivisme), Kualitatif (postpositivisme), Kombinasi (Mix method/Pragmatisme), Potensi Masalah, Instrumen, Variabel, Populasi dan Sampel, pokoknya istilah istilah pada sebuah metodologi penelitian (klik Disini, dan unduh bukunya). Penulis tidak akan membahas kesana, hanya fokus terhadap R&D, utamanya pada langkah-langkah dalam melakukan metode R&D yang sesuai dengan pengalaman dan didasarkan pada pendakatan dari para ahli.
   Metode Research and Development, atau lebih populer dengan nama "R&D" merupakan suatu metode dalam melakukan penelitian pada sebuah produk produk tertentu; baik berupa produk ciptaan sendiri yang belum ada (kreatif), maupun hasil pengembangan dari produk yang telah ada (inovasi). Dalam melakukan metode R&D, terdapat banyak model yang bisa dipilih berdasarkan pendekatan dari para ahli; Borg and Gall (1989), Thiagarajan (1974), Robert Maribe Branch (2009) dan Richey and Klein (2009). Namun model R&D yang paling populer berasal dari pendekatan Borg and Gall (1989) yang terdapat 10 langkah-langkah metode R&D.


Berikut penjelasan dari kesepuluh langkah langkah di atas:

1. Research and Information Collecting (Penelitian dan Pengumpulan Informasi)

   Singkatnya, seorang peneliti harus mengumpulkan informasi yang bertujuan untuk menemukan potensi masalah; baik melalui studi literature, penelitian dalam skala kecil dan pembuatan laporan sebagai bentuk analisis kebutuhan. Pada tahap penelitian skala kecil, peneliti bisa melakukan observasi lapangan dan melakukan wawancara untuk menemukan potensi masalah di lapangan. Ada baiknya data yang diperoleh,  diperkuat lagi dengan studi literatur. Selanjutnya, data-data tersebut disatukan dan disusun sebagai bentuk laporan analisis kebutuhan.

   Sebagai contoh, kami (tim peneliti penulis) berniat membuat sebuah produk media pembelajaran untuk siswa Sekolah Dasar. Maka tahap pertama yang harus kami lakukan adalah mengunjungi beberapa sekolah untuk melakukan observasi dan wawancara kepada guru guru. Dari beberapa sekolah tersebut, potensi masalah yang kami peroleh adalah metode pengajaran yang cenderung menggunakan metode ceramah dan media pembelajaran seadanya yang membuat siswa cepat merasa bosan. Kemudian data yang kami peroleh, diperkuat dengan hasil studi literatur terkait metode pengajaran, keefektivan media, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan fokus penelitian kami. Selanjutnya, data data yang kami dapatkan disusun dan disatukan sebagai bentuk analisis kebutuhan dari sekolah-sekolah yang telah diobservasi.
    Analisis kebutuhan ini bertujuan untuk memperkuat ide terkait seberapa urgensi masalah yang ingin diselesaikan melalui produk yang akan dibuat oleh tim peneliti. Nah, hal urgensi tersebut bisa menjadi nilai tambahan (nilai jual) apabila ingin memasuki ajang kompetisi karya tulis ilmiah (KTI).

2. Planning (Perencanaan)

   Pada tahap kedua, peneliti merencanakan atau mendesain sebuah rancangan produk yang sesuai dengan laporan analisis kebutuhan yang diperoleh. Perancangan produk bisa berupa media pendidikan, produk teknologi, obat obatan (kesehatan), dan lain sebagainya yang sesuai dengan jurusan kita.

   Lanjut pada contoh di atas, setelah kami melakukan observasi analisis kebutuhan, maka kami merancang sebuah produk media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan sekolah-sekolah. Dalam hal ini, kami merancang sebuah boneka sebagai media pembelajaran yang dikembangkan sesuai kebutuhan sekolah.
   Tahap ini kami hanya menggambarkan desain produknya saja, lalu melaporkan desainnya ke dosen pembimbing. Inilah gunanya dosen pembimbing, pada ajang lomba KTI pun membutuhkan dosen pembimbing. Yakinlah, ada banyak masukan-masukan dari dosen pembimbing terkait desainnya sebelum akhirnya dibuatkan prototype produknya secara fisik dan nyata. Saran-saran yang kami dapatkan misalahnya, pemilihan kain pada boneka, inovasi apa yang ada pada boneka, adakah permainan-permainan yang diaplikasikan ketika menggunakan boneka, dan masih banyak lagi masukan-masukan dari dosen pembimbing KTI.

3. Develop Preliminary Form a Product (Mengembangkan Produk Awal)

   Kemudian peneliti membuat desain produk tersebut menjadi produk nyata secara fisik. Baik hasil ciptaan sendiri, maupun hasil pengembangan dari produk yang telah ada (inovasi). Namun, produk tersebut masih berupa prototype semata. Dengan kata lain, produk yang dibuat masih berjumlah satu buah dan bukan rancangan ataupun desain semata, tetapi produknya telah ada secara fisik yang jumlahnya hanya satu buah (prototype). Nah, disini kita sudah paham yah apa itu prototype produk!  Pada metode R&D, produk tersebut merupakan variabel independen yang selanjutnya dilakukan ujicoba produk sebagai variabel dependennya.

   Contoh, kami sudah merancang dan mendesain sebuah produk boneka. Boneka yang kami buat merupakan suatu inovasi. Dalam hal ini, suatu pengembangan produk yang telah ada. Kemudian, hasil desain tersebut dibuat secara nyata sesuai dengan masukan-masukan dari dosen pembimbing. Namun, kami membuatnya hanya satu produk saja (prototype). Bukan waktunya untuk diperbanyak karena masih harus melakukan berbagaimacam ujicoba.

4. Preliminary Field Testing (Pengujian Lapangan Awal)

   Nah pada tahap ini, produk kita sudah ada, namun masih dalam bentuk prototype. Lalu produk tersebut harus memasuki tahap ujicoba lapangan awal. Dalam hal ini, produk memasuki uji coba validasi produk kepada para ahli; Minimal orang yang telah memasuki gelar S3 atau Ph.D. Minta pendapatnya berupa saran dan kritik dari para ahli tersebut.
  Untuk melakukan uji validasi produk, peneliti bisa melakukan teknik Focus Group Discussion (FGD), wawancara atau berupa pemberian kuesioner kepada para ahli. FGD bertujuan untuk mendiskusikan produk yang telah dikembangkan selama beberapa hari. Lalu meminta saran dan kritiknya melalui wawancara dan menilai validasi produk melalui kuesioner.

   Contoh, prototype Boneka sudah ada, namun jangan langsung diujicoba ke sekolah-sekolah. Tetapi harus melalui ujicoba validasi produk ke ahli media pendidikan; Minimal mereka yang bergelar S3 atau Ph.D. Kami membawa boneka tersebut kepada para ahli media pendidikan, dalam hal ini hanya dua ahli media pendidikan yang kami temui. Kami melakukan FGD terkait boneka yang ingin dijadikan sebagai media pembelajaran. Lalu meminta (wawancara) saran dan kritiknya terkait boneka tersebut. Nah diakhir pertemuan, kami meminta agar kuesioner uji validasinya diisi oleh para ahli media tersebut sebagai bukti bahwa kami telah melakukan uji validasi produk.
   Sebenarnya, cukup FGD dan wawancara itu sudah lumayan karena sudah banyak memperoleh data-data hasil uji validasi melalui teknik tersebut. Tetapi karena tujuannya untuk lomba yang harus diperkuat temuannya, maka kuesioner pun ada sebagai bentuk lampiran data uji validasi produk.

5. Main Product Revision (Melakukan Revisi Utama)

   Setelah produk melakukan uji validasi, maka produk tersebut direvisi berdasarkan hasil saran dan masukan-masukan dari para ahli melalui FGD dan wawancara tadi. Dengan kata lain, produk tersebut diperbaiki sesuai dengan saran dan kritik dari para ahli. Sedangkan kuesionernya menjadi bukti lampiran bahwa kita (peneliti) telah melakukan uji validasi produk.
Contohnya, bisa dibaca dari paragraf di atas, kata "produk" diganti menjadi "boneka". Oke? :3 Monggo dibaca ulang. 
6. Main Field Testing (Melakukan Ujicoba Lapangan Utama)

   Setelah produk direvisi/diperbaiki, maka selanjutnya produk tersebut memasuki tahap ujicoba utama ke lapangan. Dalam hal ini, produk yang telah kita buat harus melakukan ujicoba ke masyarakat. Namun pada tahap ini, jumlah masyarakatnya masih terbatas atau jumlahnya masih dibatasi. Dan peneliti bisa menentukan jumlahnya. Tergantung teknik pengambilan sampel penelitian.

   Nah mulai nih memasuki tahap yang sedikit menyiksa, ialah ujicoba lapangan pada produk media pembelajaran, Boneka. Namun ujicoba lapangan ini masih terbilang terbatas. Dengan kata lain, jumlah siswa dan sekolahnya masih dibatasi. Nah kami melakukan ujicoba lapangan terbatas ini di salah satu sekolah dengan pengujian produk pada siswa kelas IV.B. Terdapat tiga kelas IV di sekolah yang kami kunjungi, IV. A, IV.B, dan IV.C. Mengapa hanya siswa kelas IV.B? Karena kami menggunakan sampel insidental dan menyesuaikan analisis kebutuhan yang diperoleh sebelumnya. Nah selain itu, kami mengundang sebanyak dua guru sebagai pengamat (observer) produk yang kami tawarkan, boneka. Kami memberikan sebuah kuesioner kepada guru guru tersebut untuk diisi sesuai hasil pengamatannya. Dalam hal ini, keefektivan media pembelajaran boneka tersebut. Lalu di akhir pertemuan, kami melakukan wawancara lagi untuk mendapatkan data-data terkait apa yang perlu direvisi dari boneka ini.

7. Operational Product Revision (Revisi Operasional Produk)

  Selanjutnya hasil dari ujicoba utama di atas, dilakukan revisi kembali untuk selanjutnya dioperasionalkan ke lapangan yang lebih luas. Pada tahap ini, peneliti melakukan revisi produk berdasarkan masalah-masalah yang diperoleh pada saat menguji coba lapangan terbatas.

   Karena kami tidak menemukan masalah terkait produk bonekanya, jadi tak ada yang perlu kami revisi dari produk tersebut. Hanya saja, saran dari guru guru di atas mengenai cara mengajar dari salah satu tim peneliti yang masih sedikit kaku (kurang percaya diri). Jadi, itu saja sih yang perlu direvisi. Maklum, ujicoba lapangan pertama, jadi masih kurang percaya diri.

8. Operational Field Testing (Ujicoba Lapangan Operasional)

   Peneliti selanjutnya melakukan ujicoba lapangan operasional. Maksudnya adalah produk yang telah direvisi, selanjutnya melakukan ujicoba pada lapangan yang lebih luas. Dalam hal ini, jumlah masyarakatnya lebih banyak daripada ujicoba terbatas yang sebelumnya.

   Nah tahap ini, kami telah mengunjungi dua sekolah, dan memasuki keseluruhan jumlah kelas IV -nya. Namun, kami tetap menggunakan sampel insidental untuk siswa dan guru gurunya. Sedangkan untuk prosesnya sendiri, sama kok yang tertulis di ujicoba lapangan terbatas. Yang membedakan hanyalah kuantitas respondennya saja, baik dari siswa maupun dari guru gurunya sebagai observer (pengamat)

9. Final Product Revision (Revisi Produk Akhir)

   Nah tahap selanjutnya, setelah produk melakukan ujicoba lapangan operasional dan peneliti masih menemukan masalah pada produk yang dibuat, maka peneliti harus memperbaiki kembali atau merivisi lagi produk yang dibuat tersebut sebelum akhirnya diimplementasikan. (Apabila masih terdapat masalah pada produk).

   Nah disini, revisi produk akhirnya sudah tidak ada lagi. Karena alhamdulillah saran dan kritiknya pada bagus. Pengisian kuesioner dari guru guru observer juga memuaskan. Wawancara ke siswa-siswa juga memuaskan. Bahkan mereka berharap agar ke depan bisa hadir lagi membawa bonekanya. Secara keseluruhan ujicoba, teknik analisis data yang kami gunakan adalah mix method (kombinasi), baik kualitatif maupun kuantitatif. Kualitatif berfungsi untuk menjabarkan temuan temuan hasil wawancara yang didukung oleh teori-teori yang serupa. Sedangkan kuantitatif berfungsi untuk mendapatkan persentase keefektivan boneka sebagai media pembelajaran (ada rumusanya).

10. Dissemination and Implementation (Desiminasi dan Implementasi Produk)

   Tahap terakhir adalah mendesiminasikan dan mengimplementasikan produk yang telah melalui berbagai macam ujicoba; Uji validasi, ujicoba lapangan terbatas (utama) dan ujicoba lapangan luas (operasional). Jadi peneliti telah menemukan variabel dependennya. Maksud dari "Desiminasi" adalah peneliti membuat laporan penelitian mengenai produk yang telah diteliti dan dikembangkan (R&D), untuk selanjutnya dipublikasi pada jurnal jurnal dan dipresentasikan pada sebuah forum penelitian yang serupa (konferensi). Sedangkan "Implementasi" adalah peneliti siap mendistribusikan secara komersial (bisnis) terhadap produk yang telah dibuat dan dikembangkan. Dengan catatan "peneliti harus memonitor produk yang telah didistribusikan guna membantu dan mengontrol mutu dari produk tersebut".

   Berhubung kami masih berstatus mahasiswa (undergraduate student), maka bentuk desiminasi kami disini adalah mengikut-sertakannya pada lomba lomba KTI sejenis. Setelah mengikut sertakan, apabila ada dana (diusahakan), maka diikutsertakan pada konferensi penelitian sejenis. Mengapa harus lomba KTI terlebih dahulu? Karena menurut penulis, mahasiswa juga butuh yang namanya jiwa pesaing disamping aktif akademik maupun organisasi.  Dan lomba KTI lebih terasa jiwa persainganya ketimbang langsung masuk konferensi.
  Konferensi itu kegiatan berprofit, jadi makin banyak yang lolos, makin untung si pihak penyelenggara. Berbeda dengan lomba KTI, yang membatasi KTI untuk dimasukkan dan diseleksi hingga ke tahap finalis. Iyakan? Lebih terasa persaingannya kalau LKTI. Tetapi pada akhirnya, akan dipublikasi secara resmi pada jurnal jurnal penelitian serupa, baik melalui konferensi ataupun tanpa konferensi (publikasi langsung).
   Sedangkan bentuk implementasinya, kami tidak mendistribusikannya secara komersial karena terbatas akan ruang dan waktu. Dalam hal ini, belum saatnya untuk berbisnis sebuah produk boneka. Pertanyaannya, siapa yang akan memonitor produk? Untuk sekarang, kami tidak bisa memonitor secara berkala pada boneka tersebut. Yang ada malah penulis nggak wisuda-wisuda jadinya. Inilah yang menyebabkan metode R&D itu longitudinal (memakan waktu yang lama). Tetapi bisa berbisnis kita.

   Langkah langkahnya panjang? Iya, emang panjang. Hehehe
Jujur, tahap di atas itu penulis telah menginterpretasikannya sesuai pengalaman dan menyesuaikan dengan status kita yang masih sebagai mahasiswa cupu S1, (masih belajar metodologi penelitian). Kalau mau aslinya, lebih rumit dan cocoknya untuk mahasiswa yang mengejar gelar S2 atau bahkan S3 (asumsi). Tahap di atas, penulis telah menjalani bersama dua peneliti yang tergabung dalam satu tim peneliti.
   Dan penulis sendiri telah menjalani metode R&D sebanyak dua kali, ialah sebuah produk pemertahanan ancaman kepunahan bahasa, dan juga media pembelajaran berupa boneka sebagai model pembelajaran pada siswa Sekolah Dasar (SD). Namun peneliti tidak sampai melakukan implementasi (distribusi komersial), cukup desiminasi (ikut lomba karya tulis ilmiah dan konferensi untuk mempublikasi sebagai hak cipta). Dan sumpah, terasa capeknya, apalagi di akhir akhir ujicoba. Bahkan penulis sempat mengalami Vertigo malah sakin seringnya berhadapan dengan laptop dan buku buku demi mencoba metode R&D ini.

   Namun, ada kabar baik dari Professor Sugiyono. Model R&D, pendekatan Professor Sugiyono mengklasifikasikannya ke dalam beberapa level/tingkatan; Level 1, Level 2, Level 3 dan Level 4 (terakhir). Hal tersebut akan lebih memudahkan kita dalam menjalani langkah langkah model R&D berdasar pada pendekatan Professor Sugiyono. Tapi, tidak untuk dibahas dan dilanjutkan pada tulisan ini. Mungkin next postingan, in syaa Allah.. Ingatkan saja! Namun sebelum mengingatkan, ada baiknya langkah langkah di atas sudah harus dipahami. Sebab Prof. Sugiyono sendiri hanya berdasar pada pendekatan Borg and Gall (1989).

   Hufft,, sebagai penutup, semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi para peneliti muda, "Hidup mahasiswa S1!!!!" Dan berikut video dimana penulis dan beberapa peneliti mahasiswa telah menjalani proses R&D, semoga teman-teman bisa termotivasi dengan melihat video kami. Sekian dan terima kasih, wassalamualaikum wr.wb. Good luck :)


Read More
Bagaimana itu GRE?

Bagaimana itu GRE?

   Tulisan ini merupakan hasil pemahaman penulis terkait GRE General Test setelah beberapa hari terakhir penulis membaca buku panduannya dalam menghadapi tes, The Official Guide to the GRE Revised General Test Second Edition. Dan postingan ini merupakan review pertama dari penulis yang in shaa Allah mulai dari sekarang akan konsisten menulis review-nya. Aamiin aamiin Allahuma aamiin.
   GRE (Graduate Record Examination) General test merupakan salah satu ujian masuk perguruan tinggi di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. GRE terbagi atas dua jenis tes, baik berupa paper based test maupun computer based test. Namun tidak semua perguruan tinggi luar negeri memberikan syarat GRE untuk bisa mendaftar ke perguruan tinggi tujuan. GRE ini hanya diperuntungkan bagi perguruan tinggi yang termasuk ke dalam 10 atau 20 besar peringkat dunia, misalnya MIT, Harvard University, Oxford University, Cambridge University, Chicago University, Stanford University, dan lain sebagainya. Terlebih dengan perguruan tinggi yang tergabung ke dalam kelompok The IVY League.
   Salah satu dari kelompok The IVY League dan masuk pada peringkat 5 besar dunia adalah Harvard University misalnya yang mewajibkan syarat GRE General test untuk bisa mendaftar pada perguruan tinggi tersebut, khususnya untuk program studi master pada jurusan Language and Literacy of Harvard University. Walaupun jurusan tersebut tidak memberikan standar nilai bahwa berapa total skor GRE yang dibutuhkan agar bisa tembus ke Harvard University? Namun pihak universitasnya memberikan kesempatan untuk mengambil tes kedua kalinya dan mengumpulkan hasil kedua tes tersebut untuk melakukan perbandingan nilai. Asumsi saya adalah, Harvard University akan melihat perkembangan mahasiswa pada hasil kedua tes GRE tersebut, apakah ada peningkatan nilai atau justru tidak! Apabila ada peningkatan drastis, maka mahasiswa ini berpeluang besar untuk bisa tembus menjadi mahasiswa Harvard University, (ini masih asumsi dari penulis, dan akan dicari tahu lebih lanjut).
   Kembali ke topik utama, ialah GRE General Test. Nah pada GRE General test, terbagi atas beberapa kemampuan yang akan diuji;
    • GRE Analytical Writing
        GRE Analytical Writing merupakan tes yang bertujuan untuk mengukur kemampuan kita dalam berpikir kritis dan menganalisis sebuah tulisan. Tes ini terbagi atas dua bagian; ialah Analyze an Issue dan Analyze an Argument. Masing masing tes pada bagian tersebut memiliki durasi waktu yang sama untuk mengerjakannya, ialah 30 menit/tes.
         Oh iya, berdasarkan referensi yang saya baca pada tes ini, tim penilai GRE General Test tidak menilai jawaban kita apakah benar atau salah. Melainkan mereka akan menilai terhadap kemampuan kita dalam menekan, mengartikulasi dan mengembangkan ide kita pada suatu topik. Selama kita tetap concern, koheren dan fokus terhadap tulisan kita, maka disitulah yang menjadi nilai poin kita pada GRE General Test.
    • GRE Verbal Reasoning
         GRE Verbal Reasoning merupakan tes yang bertujuan untuk mengukur pemahaman kita terhadap ketiga bagian soal soal berikut; Reading Comprehension questions, Text Completion questions dan Sentence Equivalence questions. Namun secara keseluruhan pada soal soal tersebut, terdiri dari 25 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 35 menit.

    • GRE Quantitative Reasoning
         Tes yang terakhir adalah GRE Quantitative Reasoning, ialah sebuah tes untuk mengukur kemampuan kita dalam menghitung. Tes ini terbagi atas 3 kemampuan yang akan diukur; Matematika Dasar, Pemahaman terhadap Konsep Matematika Dasar, serta Kamampuan dalam mengukur secara kuantitatif terhadap model dan juga penyelesaian masalah dengan menggunakan metode kuantitatif. Berbeda dengan GRE Verbal Reasoning, pada tes ini terdapat empat tipe soal soal yang akan menguji pemahaman kita terkait kuantitatif; Quantitative Comparison questions, Multiple-choice questions (Pilih salah satu jawaban), Multiple-choice questions (Bisa memilih satu atau lebih dari satu jawaban) dan Numeric Entry questions. Namun secara keseluruhan pada soal soal tersebut, terdiri dari 25 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 35 menit.
     Lalu, bagaimana dengan skor penilaian GRE General Test?
    Skor pada GRE General Test terbagi atas 3 bagian sesuai dengan jenis jenis kemampuan yang diuji;
    1.  GRE Analytical Writing menilai dari 0 hingga 6 skor penilaian. Dan ingat! Pada skill ini, tim penilai GRE tidak melihat jawaban kita apakah benar atau salah. 
    2.  GRE Verbal Reasoning menilai dari 130 hingga 170 skor penilaian.
    3. GRE Quantitative Reasoning menilai dari 130 hingga 170 skor penilaian.
    Namun apabila terdapat salah satu kemampuan yang tidak bisa dijawab (misalnya., Verbal Reasoning), maka kita akan mendapatkan laporan NS (No Score) untuk mengukur kemampuan tersebut. Nah biasanya, skor kita akan muncul maksimal 6 minggu setelah kita mengambil tes GRE General test. 
       Hmm.. mungkin ini saja dulu yang bisa saya review terkait GRE General Test secara umum. Selanjutnya mungkin akan lebih khusus lagi, ialah membahas masing masing ketiga kemampuan tes di atas. Sebagai penutup pada tulisan kali ini, berikut 3 kunci keberhasilan, 
    1. Man Jadda Wa Jada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
    2. Man Shobaro Zafiro (Siapa yang bersabar akan beruntung)
    3. Man Saaro 'Alaa Darbi Washola (Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai)
    Terima kasih, wassalamualaikum, wr. wb.. See You On Top! aamiin aamiin allahuma aamiin..

    Read More
    EDx STUDENT ONLINE OF HARVARD MOOC

    EDx STUDENT ONLINE OF HARVARD MOOC

       Edx Student Online merupakan layanan kursus singkat/short course secara daring (online). Sebelum masuk pada Short Course Online ini, essai yang saya mempresentasikan adalah potensi negara Indonesia sebagai negara multikultural dengan berbagaimacam bahasa, agama, suku dan adat istiadat. Saya belajar banyak mengambil kursus daring ini, ternyata perjuangan justru dirasakan pada saat menjalani kursusnya. Bukan pada saat tahap administrasinya.
        Perbedaan waktu antara Amerika dan Indonesia yang paling saya rasakan. Saya harus menyesuaikan waktu Amerika yang bahkan saya berada di Indonesia. Merelakan waktu tidur di malam hari hingga pukul 01.00 AM atau bahkan 03.00 AM demi mengikuti kelas kursusnya. Terlebih lagi dengan bentuk daring yang bahkan ini adalah pengalaman pertama saya. 
    By the way, tulisan ini bukan bentuk keluhan, tetapi bentuk penetralisir terhadap apa yang ada di dalam pikiran (Biar ngga stress stress amat). 
       Berbagaimacam session yang harus saya lewati untuk mengikuti kelas kursusnya. Dan tiap session mempunyai bahan bacaan yang berbeda beda tetapi tetap satu tema, ialah Language and Culture;
    1. Language Revival: Securing the Future of Endangered Languages
    2. Culture: Religion, Conflict and Peace
       Tema pertama merupakan tema yang menyangkut kepunahan bahasa dan dibawakan khusus oleh seorang professor dari University of Adelaide , ialah prof. Zuckermann.
       Prof. Zuckermann memang sangat tertarik pada penelitian ilmu bahasa, terutama pada ancaman kepunahan bahasa. Berbagai macam  jurnal publikasi internasionalnya terkait bidang  ilmu bahasa (linguistik); mulai dari language revival, sociolinguistics, historical linguistics, language identity, dan masih banyak lagi. Silakan Klik Disini. Begitupun dengan kursus online ini, beliau membagikan ilmunya mengenai tindakan kita terhadap ancaman kepunahan bahasa.
       Adapun tahap tahap yang harus saya masuki untuk mengikuti kelas kursusnya, antara lain;
       Tahap pertama, saya harus melewati Language revival terlebih dahulu untuk melangkah ke tema selanjutnya.  Bahan bacaannya pun tidak main main pada setiap session-nya. Dan bukan cuma bahan bacaan yang harus dipahami, tetapi juga mendengarkan penjelasan dari prof. Zuckermann melalui vidio daringnya.
       Dibawah ini merupakan syllabus pelajaran yang harus saya pahami. Tiap topik memilik sub-bab yang berbeda beda. Dan sampai saat ini, saya masih berada pada Linguicide (Case for Revival). 
       Nah, yang kedua, maksud saya adalah tahap kedua. Setelah melalui Language Revival, maka saya pun akan dialihkan ke budaya, ialah Religion, Conflict and Peace (Agama, Konflik dan Perdamaian). Materi ini pun memiliki syllabus tersendiri yang dibawakan oleh Prof. Diane Moore, Harvard Divinity School of Harvard University. Namun sayang, saya tidak bisa memperlihatkan syllabusnya seperti yang di atas. Mengapa? Karena syllabus yang diberikan itu berupa situs daring. Tidak seperti syllabus Language Revival dimana saya bisa mengunduhnya, lalu menampilkannya di sini.
       Sekilas mengenai tema kedua ini, Prof Moore membagikan ilmunya tentang bagaimana cara pandang kita terhadap perbedaan, khususnya tentang agama. Beliau cenderung menyadarkan kita agar lebih bijaksana dalam memandang suatu perbedaan agama. 
      
       Prof. Moore merupakan seorang direktur Religious Literacy Project of Harvard University. Beliau juga merupakan anggota senior pada Center for the Study of World Religions. Beliau memfokuskan penelitiannya pada pemahaman publik tentang agama melalui kacamata pendidikan secara kritis,  Klik Disini.
       Pada kursus online ini, kita tidak semerta merta hanya membaca dan memperhatikan vidionya semata. Tetapi juga kita mempunyai situs khusus untuk berdiskusi dengan teman kelas lainnya. Situs tersebut berbeda dengan situs kelas materinya.  Jadi, apabila kursusnya sudah bersambung, maka kita dialihkan ke situs khusus untuk berdiskusi. Begini tampilan profil saya pada situs khususnya,

        Sekilas tentang situs berdiskusinya, situs tersebut mirip dengan Facebook dimana kita mempunyai profil, bisa memposting status, berkomentar maupun like, bahkan mempunyai menu obrolan (chat) layaknya Facebook. Namun perbedaanya adalah kita diikat oleh peraturan dimana situs tersebut tidak memperbolehkan student untuk memposting di luar dari topik pembahasan. Bahkan berkomentar di luar topik pun ngga boleh sama sekali karena hal tersebut dinilai. Terlebih lagi, jumlah kata pada setiap postingan dan komentar pun dinilai. Begitupun dengan jumlah Like. Jadi, setiap postingan maupun komentar musti berbobot, jelas, padat dan tepat. Kenapa harus berbobot? Supaya kita bisa memperoleh like dari teman teman kursus kita, dan itu dinilai.
       Badewei, kursus ini menyediakan sertifikat internasional yang resmi, bahkan mempunya ID Certificate (Jadi bisa dilacak keasliannya). Namun, saya harus memenuhi standar penilaiannya. Setelah memenuhi standar, maka ada tahap administrasi yang berbayar untuk memperoleh sertifikatnya. Namun untuk saat ini, saya tidak terlalu memikirkan bayarannya, saya hanya berfokus pada ilmunya saja dulu. Kalau ada uang, kenapa tidak kita bayar? It's about 50 Dollars to reach it. Sampel sertifikatnya seperti di bawah ini, saya memperolehnya dari alumni Harvard MOOC itu sendiri melalui situs diskusi di atas..
    Dan kita akan diinformasikan melalui pos-e apabila telah memenuhi standar penilaian.
       Sebenarnya saya mempunyai inisiatif untuk meninjau (review) hasil pembelajaran saya melalui Blog ini pada setiap session-nya. Tetapi saya sedikit khawatir dan belum mau berjanji, takutnya saya salah paham terkait materinya. Kita liat saja nanti, kalau saya bisa memahami materi kursusnya, maka saya akan review materinya di sini. Doakan saja, semoga berhasil menjalani kursusnya. Terlebih lagi, ada tugas yang akan diberikan ke kita kedepannya, ialah mid dan final test. But, yeahh.. I love challenge.. See You on Top!!!
       Kursus ini sangat resmi dan dapat dipercayai, bahkan kursusnya pun tercantum pada laman profil professor-professor di atas pada situs resmi universitasnya.
    Read More